Jakarta - Terkait promosi dan penggunaan kekuatan gaib yang tertera dalam Pasal 293 draf Rancangan Undang-Undang (RUU) revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), maka kepolisian diperkirakan akan sulit menemukan bukti materiil terkait hal tersebut.

“Sepanjang saya bertugas sebagai anggota Polri belum pernah ada tersangka yang maju ke persidangan, karena menyantet orang. Kalau hal itu misalnya dirumuskan sedang pasal yang jelas multitafsir itu akan alami kesulitan,” kata Pengamat Kepolisian, Kombes Alfons Lemau dalam diskusi di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (23/3).

Apalagi kemudian masuk ke persidangan, maka perdebatan soal proses dan pembuktian santet ini, kata dia, bisa berkepanjangan. Polisi, lanjut Alfons, harus membuat rangkaian lengkap mengenai unsur-unsur pidana yang terkait.

Menanggapi hal tersebut, pengamat paranormal dan politikus Gerindra, Permadi menjelaskan, pengungkapan adanya santet bukan hal yang tidak mungkin. Menurut dia banyak ahli-ahli santet yang bisa mengidentifikasi mengenai hasil perbuatan santet yang bisa mencelakakan orang.

Menurut dia, ilmu santet sendiri sama hanya digunakan dengan niat berbeda. Ada yang menggunakan untuk mata pencaharian hingga bersedia mencelakakan orang, sementara lainnya digunakan justru untuk membantu orang yang terkena santet. Untuk itu sebelum merampungkan UU ini, Permadi menilai, kelompok santet harus dikumpulkan untuk memberi perspektif tentang ilmu yang dianggap gaib tersebut.

“Ahli hukum harus satu suara, santet itu ada apa enggak, kalau sudah yakin santet sudah ada maka timnya ini harus menyertakan ahli-ahli santet. Kalau tidak ada ahli santet, maka definisi pun bisa melenceng,” imbuhnya.

Lebih lanjut Permadi mengatakan, melalui hasil rontgen sebenarnya bisa diketahui apakah seseorang terkena santet atau tidak. Itu bisa dilihat misalnya dengan adanya materiil seperti pisau atau jarum di dalam tubuh seseorang setelah melakukan pemeriksaan rontgen.

“Ini pernah dibuktikan prater Lukman, penelitian melalui rontgen di otak ada jarum ada paku, itu kan suatu pembuktian kalau mau sempurnakan UU ini libatkan orang-orang yang ngerti santet,” kata dia memberikan contoh tentang seseorang yang pernah meneliti soal santet.

Penulis: Ezra Sihite