Sejumlah personel Brimob dan TNI bersenjata lengkap bersiaga setelah terjadi penyerbuan di Lapas 2B Cebongan, Sleman, Yogyakarta

Jakarta - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mendesak Markas Besar Polri agar memeriksa jajaran Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terkait penyerangan dan pembunuhan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan, Sleman, akhir pekan lalu. Polda DIY dinilai lalai dalam menangani empat tahanan yang dititipkan ke LP Cebongan.

"Kami minta dilakukan pemeriksaan terhadap jajaran kepolisian DIY, terutama terkait pemindahan tahanan hanya dalam tiga hari ke LP. Kami curiga mengapa tidak ada bantuan keamanan ke LP pascapenyerahan tahanan. Apakah pihak Polda DIY sudah mengetahui bahwa akan ada rencana eksekusi terhadap empat tahanan?" kata Koordinator Kontras Haris Azhar dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (27/3).

Kontras juga menilai ada kejanggalan dalam tindakan Polda yang memindahkan para tahanan dari tahanan Polda ke LP Cebongan. Polda seharusnya bisa mengantisipasi kejadian tersebut. Pasalnya, empat korban yang meninggal merupakan tahanan yang diduga membunuh anggota Kopasus TNI AD sersan satu Santoso. Atas tindakan mereka pasti ada gangguan, intimidasi, maupun penyerangan.

"Polisi membuat kebijakan yang aneh dengan mengirim tersangka ke LP hanya dalam waktu tiga hari pascakejadian dan tidak melakukan back up keamanan. Terbukti ketika penyerangan tidak ada polisi di lokasi. Informasi yang diperoleh bahwa penyerahan atau penitipan tahanan oleh polisi tidak lazim dilakukan dalam waktu singkat. Biasanya penitipan dilakukan oleh pihak kejaksaan kerena tidak memiliki ruang tahananan yang cukup," ujar Haris.

Haris mengemukakan dari hasil penyelidikan Kontras di tempat kejadian menyimpulkan bahwa serangan ke LP Cebongan dilakuakan dengan target pembunuhan hanya kepada empat orang pelaku. Patut diduga ada motif dendam dari rekan-rekan Santoso. Penyerangan juga dilakukan dengan sangat terencana dan memiliki persenjataan tempur yang tidak mungkin dimiliki warga sipil biasa.

Suara Pembaruan

Penulis: R-14

Sumber:Suara Pembaruan