Pengusaha otomotif, Asep Hendro keluar dari Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi untuk dibawa menuju rutan KPK usai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Kamis (11/4)

Jakarta - Kuasa hukum saksi Asep Hendro, Fajar Marpaung membenarkan kliennya diperas agar menyerahkan uang Rp 600 juta kepada penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) pajak Pargono Riyadi.

Jika tidak memberi, Asep bakal dijadikan terdakwa dalam kasus pajak.

"Jumlahnya saya tidak mengerti. Tetapi, terakhir kan Rp 600 juta. Dan dikasihnya Rp 25 juta," kata Fajar ditemui di kantor KPK, Jakarta, Rabu (17/4).

Fajar menjelaskan, kewajiban pajak perorangan tahun 2006 milik Asep sudah selesai dibayarkan, yaitu sebesar Rp 340 juta.

Tetapi, sekitar dua sampai tiga bulan lalu, Pargono mengancam untuk menyerahkan sejumlah uang dengan menggunakan alasan terjadi masalah dalam penuaian kewajiban pajak perorangan kliennya.

Bahkan, lanjut Fajar, berkas-berkas pajak yang diserahkan kliennya kepada Pargono melalui konsultan pajak Sudiarto ditolak dan Pargono tetap bersikeras meminta sejumlah uang.

Seperti diketahui, tim KPK pada Selasa (9/4) sore, menangkap tangan Pragono Riyadi dan Andreas alias Rukimin Tjahyono sedang melakukan tindak pidana korupsi di lorong stasiun kereta Gambir.

Bersama keduanya, ditemukan uang senilai Rp 25 juta dalam tas kresek. Uang tersebut diduga sebagai uang suap pengurusan pajak.

Kemudian, tim KPK juga menangkap seorang wajib pajak bernama Asep Hendro di rumah yang merangkap kantor di Jl. Tole Iskandar, Depok.

Selanjutnya, pada Rabu (10/4) sekitar jam 00:30 WIB, tim KPK kembali menangkap seorang bernama Wawan yang diduga adalah Manajer perusahaan Asep Hendro Racing Sport (AHRS).

Kemudian, pada Rabu (10/4) siang, kembali diamankan seorang konsultan pajak bernama Sudiarto.

Setelah dilakukan pemeriksaan selama 1x24 jam, KPK akhirnya hanya menetapkan Pargono sebagai tersangka pemerasan.

Suara Pembaruan

Penulis: N-8/WBP

Sumber:Suara Pembaruan