Ilustrasi pecandu narkoba yang menggunakan jarum suntik.

Jakarta -Mantan Jaksa pada Kejaksaan Negeri Jakarta Barat, Sultoni divonis 18 bulan penjara dalam kasus dugaan pemalsuan putusan pidana dalam sebuah perkara narkoba. Selain pidana penjara, terdakwa juga dijatuhi hukuman denda Rp 50 juta subsider dua bulan penjara.

Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menilai, Sultoni terbukti bersalah memalsukan vonis terdakwa Sugianto yang terlibat kasus narkoba dari hukuman 10 tahun penjara menjadi tiga tahun penjara.

"Menjatuhkan hukuman satu tahun enam bulan penjara dengan denda Rp 50 juta subsider dua bulan kurungan," kata Hakim Ketua Tati Hadiyanti saat membacakan putusan di pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (2/5).

Majelis hakim menyatakan Sultoni terbukti melanggar Pasal 9 UU tentang Tindak Pidana Korupsi, dengan delik pegawai negeri memalsukan buku-buku dan daftar-daftar yang khusus untuk pemeriksaan administrasi.

Putusan ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Agung (Kejakgung). Pasalnya, Penuntut Umum menuntut Sultoni dua tahun penjara dan denda Rp 50 juta, subsider dua bulan kurungan.

Sultoni sendiri diketahui telah dicopot dari posisi jaksa sejak 2009 karena pelanggaran indisipliner. Namun, kasus pemalsuan putusan ini baru terungkap setahun kemudian.

Kasus itu berawal saat polisi menangkap Sugiyanto alias Halim alias Asen karena kasus narkotika pada 2010. Padahal, pada 2007, Sugiyanto divonis 10 tahun penjara dalam perkara narkotika juga. Artinya, Sugiyanto mestinya baru bebas pada 2017.

Setelah diusut, nama mantan jaksa Sultoni pun terseret. Sultoni diduga menerima uang suap Rp20 juta dari Leo yang menjadi makelar. Uang itu menjadi imbalan jasa atas bantuan memalsukan putusan palsu untuk terpidana Sugiyanto.

Untuk melancarkan aksinya, Sultoni meminta stafnya untuk dibuatkan salinan putusan yang palsu. Sultoni juga memalsukan tanda tangan Kepala Kejari Jakbar, Tidung. Surat tersebut pun diserahkan ke Rumah Tahanan (Rutan) Salemba, Jakarta Pusat.

Namun, Leo yang dalam dakwaan disebut sebagai pemberi uang imbalan Rp20 juta, sampai saat ini masih buron. Akibatnya, perkara suap dalam kasus ini belum bisa dibuktikan.

Terhadap putusan ini, Sultoni menyatakan pikir-pikir. "Saya pikir-pikir dulu yang mulia," kata Sultoni. 

Investor Daily

Penulis: RIS/FMB

Sumber:Investor Daily