Bom bunuh diri di Mapolres Poso. Insert: wajah pelaku yang masih utuh

Jakarta - Aksi bom bunuh diri oleh lelaki tak dikenal yang terjadi di Mapolres Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), pada Senin (3/6) sekitar pukul 08.00 WITA masih diusut.

Tak hanya bekerja untuk mengenali identitas pelaku, polisi juga menganalisis materiil bom maut yang memakan tuannya sendiri itu.

"Sementara ini yang bisa diidentifikasi ada serpihan tupperware yg berada di lokasi. Artinya, bom ini adalah bom bunuh diri yg menggunakan tupperware. Ini sedang diidentifikasi oleh Puslabfor apa saja (unsurnya) dan sebagainya," kata Kadiv Humas Polri Irjen Suhardi Alius di Mabes Polri, Senin.

Berdasarkan analisis bom atau bomb signature, Suhardi melanjutkan, nantinya akan bisa ditentukan dengan lebih akurat, bom itu milik kelompok mana.

"Apalagi kita tahu pada waktu lalu juga ada tahanan (kasus terorisme di Poso) di LP yang melarikan diri. Apakah itu ada kaitannya dengan itu dan jaringan lainnya, kita sedang dalami," sambungnya.

Yang dimaksud Suhardi adalah kaburnya Basri alias Bagong, narapidana kasus mutilasi tiga siswi SMU Kristen Poso, yang melarikan diri dari tempatnya ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Ampana sejak Jumat (19/4) lalu.

Polisi saat itu sudah mewanti-wanti jika Basri yang divonis hukuman penjara selama 19 tahun oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 11 Desember 2007 lalu itu punya keahlian merakit bom.

"Bom itu awalnya terdengar letupan kecil dan kemudian dilanjutkan dengan ledakan besar yang menghancurkan tubuh pelaku. Tapi wajahnya masih bisa diidentifikasi," sambungnya.

Kapolda Sulteng Brigjen Ari Dono saat dihubungi Beritasatu.com tak menepis jika pelaku diduga kuat terkait dengan Santoso yang telah memproklamirkan sebagai komandan Mujahidin Indonesia Timur dan diketahui beroperasi di Poso.

Sementara Santoso masih buron hingga kini.

Penulis: Farouk Arnaz/FEB