Mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum (kanan) berjabat tangan dengan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar (kiri) sebagai pemohon sidang praperadilan SMS gelap di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Senin (10/6)

Jakarta - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar menghadirkan mantan Ketua Umum Partai Demokrat (PD), Anas Urbaningrum, sebagai saksi dalam sidang gugatan praperadilan penanganan kasus SMS gelap, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Senin (10/6).

"Anas akan hadir sebagai saksi pada pukul 10.00 WIB," kata anggota penasihat hukum Anas, Carrel Ticualu, kepada media ini, di Jakarta, Minggu (9/6) malam.

Disinggung soal mengapa Anas baru sekarang berbicara mengenai kasus yang membelit Antasari, Carrel beralasan selama ini penyidik Polri maupun pihak Antasari tidak pernah meminta kesaksian kliennya. Namun, dia tidak menjawab ketika disinggung kalau Anas selama ini tidak memiliki inisiatif membela Antasari.

"Pihak-pihak terkait kasus Nasruddin, termasuk penyidik maupun pihak Antasari, selama ini belum pernah minta Anas bersaksi," kata Carrel.

Carrel menegaskan, Anas tidak mengetahui akan kasus SMS gelap yang dilaporkan Antasari. Kliennya hanya mengetahui kalau kondisi Nasruddin baik-baik saja sewaktu bertemu dalam suatu pertemuan di Bandung, dua hari sebelum peristiwa pembunuhan.

"Yang Anas tahu, beberapa hari sebelum almarhum ditembak, sempat bertemu Anas, dan dia tidak melihat ada kegalauan dari penampilan almarhum saat itu, sebagaimana kalau orang terancam. Itu saja yang diketahui Anas," katanya.

Antasari Azhar menggugat Polri atas penanganan kasus SMS gelap ancaman pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen, yang mandek. Antasari telah melaporkan kasus itu pada 25 Agustus 2011.

Pasalnya, SMS tersebut tidak dapat dibuktikan dikirim oleh Antasari, karena keterangan saksi ahli dalam pengadilan mengatakan ancaman melalui SMS tersebut dikirim bukan melalui telepon genggam Antasari. Namun, baik dari tingkat PN hingga tingkat Mahkamah Agung (MA), Antasari tetap divonis bersalah karena menginisiasi pembunuhan berencana terhadap Nasruddin Zulkarnaen.

Kesaksian Anas untuk Antasari dianggap penting, karena Anas pernah bertemu Nasruddin dua hari sebelum peristiwa penembakan terjadi. Secara psikologis, Nasruddin jika menerima ancaman pembunuhan akan terlihat panik. Namun, Anas menilai kondisi Nasruddin saat itu baik-baik saja.

Koordinator Kuasa Hukum Antasari, Boyamin Saiman mengatakan, SMS ancaman pembunuhan yang disebut berasal dari telepon genggam Antasari itu, diterima Nasruddin dua bulan sebelum peristiwa pembunuhan. Logikanya, jika seseorang bertemu tokoh besar, pasti ia akan mengadukan ancaman yang dialami.

"Dalam pertemuan di Bandung, dua hari sebelum penembakan, secara kebetulan Nasruddin memperkenalkan dirinya kepada Anas. Jika dia menerima ancaman pembunuhan dan bertemu dengan Anas, tentu dia ketakutan. Namun, Nasruddin tidak merasa takut. Ini yang mau kami gali dari Anas. Apakah dia diberitahu soal SMS gelap itu atau tidak, ini yang kami mau gali," kata Boyamin.

Lihat Video disini

Suara Pembaruan

Penulis: E-11

Sumber:Suara Pembaruan