Ilustrasi kebakaran

Jakarta - Meski kebakaran kantor pusat operasional PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI) yang berlokasi di Sengkotek Jl Cipto Mangunkusumo, kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda, terjadi pada Jumat pekan lalu, namun penyelidikan terhadap penyebab kebakaran tersebut masih dilakukan pihak berwenang.

Kebakaran, menurut Albert, salah satu saksi mata, terjadi Jumat (7/6) sekitar pukul 18.55 WITA. Sumber api, menurutnya berasal dari lantai dasar kantor. Meski tidak ada korban jiwa akibat kebakaran, namun kerugian materil diperkirakan mencapai milaran rupiah, termasuk seluruh dokumen penting juga ludes terbakar. Menurut keterangan sementara, Kebakaran terjadi akibat arus pendek di lantai satu.

Namun, kebakaran yang terjadi pada SULI meninggalkan banyak pertanyaan dan keganjilan pada beberapa pihak karena SULI selama ini diketahui banyak terjerat kasus perdata dan pidana dengan berbagai pihak. Menurut Sekjen Lembaga untuk Transparansi dan Akuntabilitas Perusahaan Publik, Indra Abidin Nasri, yang juga pengamat ekonomi dan emiten, kebakaran SULI pada Jumat lalu dikhawatirkan sebagai aksi yang sengaja dilakukan untuk menghindari berbagai jeratan dan tuntutan yang menimpa SULI.

Indra menjelaskan bahwa manajemen dan keuangan SULI akan diaudit atas perintah pengadilan terkait dengan sengketa antar pemegang saham mayoritas (Putra Sampoerna dan Hasan Sunarko) dan pemegang saham minoritas (publik).

“Surat resmi dari MA yang berisi penolakan kasasi pihak SULI dan menguatkan keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk memeriksa SULI, baru saja diterima para pihak terkait pada Jumat (7/6), kemudian sore harinya terjadi kebakaran di SULI, ada apa ini? Apakah ini kebetulan terbakar atau sengaja dibakar," tanya Indra Abidin saat dihubungi wartawan.

Kebakaran SULI menurut Indra penuh keganjilan karena kebakaran terjadi setelah jam pulang kantor karyawan.

“Umumnya arus pendek terjadi saat beban listrik sedang tinggi-tingginya, padahal jam pulang kantor beban arus listrik sudah jauh berkurang, aneh bukan?” tandas Indra.

“Pihak SULI juga begitu cepat untuk menyampaikan bahwa dokumen-dokumen penting perusahaan telah terbakar,” lanjut Indra.

Sebagaimana diketahui, SULI adalah perusahaan kayu raksasa di Indonesia yang sedang bersengketa baik perdata maupun pidana antara pemilik saham mayoritas dan minoritas. Saat ini kasus perdatanya sedang disidangkan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan kasus pidananya sedang diselidiki Mabes Polri.

Pemegang saham minoritas menggungat manajemen dan direksi SULI yang dianggap melakukan tindakan yang merugikan perusahaan dan pemilik saham publik. Pemegang saham minoritas menggugat kerugian meteriil dan immateriil senilai total Rp 20 triliun dan kalau penggugat memenangkan gugatan akan dikembalikan semuanya kepada manajemen SULI sebagai modal untuk perbaikan pengelolaan perusahaan.

Indra Abidin meminta kepada pihak yang berwajib untuk mengusut tuntas kemungkinan unsur kesengajaan pada kebakaran tersebut. Jika terjadi unsur kesengajaan, aparat penegak hukum wajib memproses ini ke pengadilan secara terbuka dan tanpa pandang bulu.

“Aparat tidak boleh takut dan harus tegas memproses ke jalur hukum jika terjadi unsur kesengajaan,” himbau Indra.

Indra juga menduga kesengajaan dilakukan karena perusahaan sedang mengalami banyak masalah.

“Aparat hukum pasti dengan mudah akan mencium bau kesengajaan, sebab SULI sedang banyak terjerat kasus, baik kasus sengketa antar pemegang saham, illegal logging, dan lain-lain,” tegas Indra.

Penulis: ANT

Sumber:Antara