Anggota TNI menata sejumlah barang bukti kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan Sleman, beberapa waktu lalu.

Jakarta - Sidang perdana kasus penyerbuan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan Yogyakarta akan digelar paling lambat minggu depan.

Walaupun pemberkasan kasus penyerbuan Lapas Cebongan telah selesai, namun hingga kini peradilan militer masih lakukan persiapan akhir.

“Sidang baru akan digelar minggu depan. Konfirmasi terakhir, saat ini masih dilakukan persiapan,” kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Rukman Ahmad, Sabtu (15/6).

Seluruh tersangka kasus penyerbuan Lapas Cebongan akan diadili melalui peradilan militer. Rencananya, pengadilan militer akan digelar di Yogjakarta lantaran lokasi tempat kejadian perkara masuk ke ranah hukum Kodam IV diponegoro, Yogyakarta.

Selama proses penyelidikan, tim investigasi kasus Cebongan sudah memeriksa sekitar 56 saksi. Seluruh saksi juga akan memberikan kesaksian pada persidangan yang akan digelar secara terbuka tersebut.

Rukman menegaskan, kasus Cebongan merupakan kasus yang diprioritaskan untuk diselesaikan. Persidangan dijanjikan berjalan secara transparan. Bahkan, media dan masyarakat dapat mengawasi secara langsung persidangan tersebut.

Sebelumnya TNI AD menyatakan 11 anggotanya terlibat kasus penyerangan lapas pada 23 Maret 2013 lalu. Dua dari pelaku yang terlibat disebut berusaha mencegah aksi tersebut, tetapi gagal.

Kepada tim investigasi TNI AD, pelaku juga mengaku menggunakan enam senjata, di antaranya AK-47 dan replikanya. Diduga kuat, penyerangan merupakan tindakan seketika yang dilatari jiwa korsa dan membela kehormatan kesatuan.

Latar belakang penyerangan menyusul aksi pengeroyokan dan pembunuhan terhadap Serka Heru Santoso di Hugo's Cafe Yogyakarka pada 19 Maret 2013, dan pengeroyokan terhadap mantan anggota Kopassus Sertu Sriyono pada 20 Maret 2013.

Dalam peristiwa penyerangan keLapas, empat tersangka kasus pembunuhan Serka Santoso ditembak mati di tempat, yaitu Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Suara Pembaruan

Penulis: Y-7/FEB

Sumber:Suara Pembaruan