Arena pertandingan tinju di Nabire, sehari setelah terjadinya kericuhan.

Jakarta - Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane menilai, tragedi berdarah pertandingan tinju di Nabire, Papua, Minggu (14/7), merupakan bentuk kelalaian polisi dalam menjaga keamanan. Menurutnya, kelalaian aparat berbuntut pada tewasnya 18 orang dalam insiden tersebut.

"Lemahnya aparat keamanan mengantisipasi situasi, akhirnya (membuat) event olahraga tersebut berubah menjadi kerusuhan. Tragedi Nabire adalah peristiwa terburuk dalam sejarah olahraga bangsa ini. Ironisnya, Polri seakan tidak berbuat apa-apa hingga ke-18 orang itu tewas sia-sia," kata Neta, di Jakarta, Senin (15/7).

Menurut Neta, penyelenggaraan pertandingan tinju diadakan atas izin aparat. Seharusnya, jika telah memberi izin, aparat kepolisian menindaklanjutinya dengan melakukan deteksi dini.

"Polisi sudah memberi izin pada event pertandingan tinju tersebut, sehingga apa pun yang terjadi di dalam event itu, polisi harus bertanggungjawab," katanya.

Sehubungan dengan peristiwa tersebut, ujar Neta lagi, Kapolri layak mengevaluasi dan mencopot Kapolres dan Kapolda setempat, karena telah lalai dalam menjaga keamanan dan melakukan deteksi dini.

"Kematian 18 orang dalam sebuah event, bukanlah perkara kecil. Untuk itu, Kapolri harus mengevaluasi dan mencopot Kapolres dan Kapolda. (Sebab) Akibat kelalaian keduanya, polisi tidak melakukan deteksi dini dan antisipasi, sehingga pertandingan tinju tersebut berubah menjadi kerusuhan massal," ujarnya.

Dikatakannya lagi, tidak ada alasan bagi Kapolri untuk tidak mencopot Kapolda Papua, Irjen Tito Karnavian. Sebab, menurut Neta, sepanjang yang bersangkutan menjabat sebagai Kapolda, banyak terjadi kasus-kasus yang belum terungkap hingga kini.

"Kenapa IPW mendesak Kapolda juga harus dicopot? Sebab, sejak Irjen Tito Karnavian menjadi Kapolda Papua, banyak sekali tragedi terjadi di Papua, dan tragisnya tidak satu pun yang terungkap hingga kini. Misalnya, penyerangan yang menewaskan sejumlah anggota TNI, pembunuhan terhadap anggota Polri, dan kerusuhan Nabire," katanya.

 

Suara Pembaruan

Penulis: E-11

Sumber:Suara Pembaruan