Ilustrasi TKW

Kupang - Puluhan orang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan termakan rayuan gombal para perusahaan yang tergabung dalam Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) untuk dipekerjakan di Jakarta dan Surabaya. Bukannya ke tempat yang diincar, ternyata mereka dikirim ke luar negeri dengan identitas, umur, serta alamat yang telah dipalsukan.

Niat busuk para penipu itu diketahui aparat keamanan, yang berhasil menggagalkan tujuh orang TKW di Surabaya. Sayangnya, 17 orang lain berhasil dikirim ke luar negeri. Modus operandi baru tersebut membuat aparat kepolisian Polda NTT kesulitan melacak siapa yang bertanggung jawab dalam kasus trafficking tersebut.

Menurut Ima Plai Tuka, putra NTT yang bekerja di Surabaya melalui telepon genggamnya, Selasa (30/7) mengatakan, penyelundupan ketujuh orang TKW itu berhasil digagalkan oleh aparat Polsek Gendangan, Polres Sidoharjo, Surabaya atas pengaduan para TKW yang nyaris diberangkatkan ke luar negeri bukan berdasar keinginan mereka.

Ketujuh TKW yang berhasil digagalkan keberangkatannya itu adalah: Juli Tefa (15), Laura Pareira Pires (18), Angel Frida Da’ok (16), Esther Tanaem (17), Norce Selviana (15), Yanti Langau (17), dan Norca Toni. Mereka sudah berada di Kupang sejak Sabtu (27/7) malam, saat ini masih menjalani pemeriksaan di Polda NTT.

Ima meminta bantuan aparat keamanan dari kepolisian untuk membantu mencari pengurus PJTKI yang melakukan pengiriman TKW itu, sehingga dapat dipulangkan ke Kupang. Sebab hingga saat ini mereka ditampung sementara di kediaman Ima atas permintaan Kapolres Sidoharjo, namun ia dan keluarganya tak mampu terlalu lama menampung.

Menurut Ima, semua TKW diberangkatkan dari Kupang dengan janji dipekerjakan ke Jakarta dan Surabaya. Namun kenyataannya, mereka ditampung di sebuah tempat milik Indra di Surabaya. Tanpa persetujuan para perempuan itu, diurus paspor untuk diberangkatkan ke luar negeri.

Sebelum berangkat ke Surabaya, para TKW ditampung di belakang Bandara El Tari Kupang dan diurus oleh Yos dan John Adu. Menurut pengakuan para TKW, sebelum naik pesawat ponsel dan barang perhiasan diambil untuk disimpan di perusahaan di Kupang. “Kami minta tolong Bapak beritakan biar polisi tangkap mereka. Sebab kami ditipu dan dijualbelikan seperti binatang saja. Sebelum kejadian itu sudah belasan orang TKW yang diberangkatkan ke luar negeri yang diurus oleh Ibu Indra. Mereka juga ditipu identitasnya,” tambahnya.

“Ternyata mereka adalah PJTKI ilegal, setelah saya pulang ke Kupang kemarin Sabtu (27/7) lalu dengan menumpang pesawat, tiket saya dibeli oleh Pak Yos. setelah saya tiba di bandara El Tari Kupang, saya telepon untuk jemput, malah menghindar. Katanya takut Polisi," jelas Nolce Toni.

Pengurus TKW di Surabaya, yang dikenal sebagai ibu Indra itu sejak seharian dihubungi dari Kupang belum berhasil atau tidak menerima panggilan walaupun nada dering masuk terus berbunyi.

Dalam melakukan investigasi intel Polda NTT mengalami kesulitan mencari siapa pelaku pengirim sejumlah TKW tersebut ke Surabaya. Malah memintai keterangan dari wartawan Suara Pembaruan (SP). Anehnya, setelah wartawan SP mendatangi Markas Polda NTT, sudah ada tiga orang TKW di ruangan itu. “Kami sudah mencari sejak sepekan namun belum berhasil. Malah kami mencurigai bapak (wartawan SP) sebab namanya sama Yos,” katanya.

Patut diduga, dipertanyakan, dan dicurigai bahwa sejumlah kasus trafficking yang terjadi selama ini di NTT, belum ada satu tersangka dari pimpinan perusahaan PJTKI diproses sampai ke Pengadilan. Hampir semua pelakunya lepas dan dibiarkan melakukan kegiatan trafficking di wilayah itu.

Suara Pembaruan

Penulis: YOS/NAD

Sumber:Suara Pembaruan