Komjen Pol Oegroseno

Jakarta - Komjen Pol Oegroseno masih berpeluang menggantikan Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menolak dan meragukan kemampuan calon kandidat yang diserahkan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dan Kapolri. Presiden mempunyai hak prerogatif jika memilih Oegroseno.

"Pemimpin yang pantas dan diyakini bisa membawa perubahan drastis di Polri itu adalah Oegroseno. Dia sosok jenderal yang sangat tegas, keras dan berprestasi. Selain tegas, dia juga pemimpin yang sangat humanis dan antikekerasan di masyarakat," ujar pemerhati masalah kepolisian, Malik Asalih Harahap kepada SP, Jumat (2/7).

Malik mengatakan, Undang - undang (UU) Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian, tidak menyebutkan calon Kapolri harus memiliki masa dinas 2 tahun. Sebaliknya, UU tersebut juga menguatkan Presiden untuk memperpanjang masa jabatan pemimpin Polri selama 2 tahun. Presiden pun tidak melanggar UU tentang Kepolisian jika mengangkat Oegroseno sebagai Kapolri.

Dalam UU itu tertuang bahwa Presiden mempunyai kewenangan dalam mengangkat dan memberhentikan seorang Kapolri dengan pertimbangan jika orang bersangkutan terjerat kasus hukum, sakit maupun alasan lainnya. Artinya, jika Presiden mengangkat Oegroseno maka otomatis masa jabatannya pasti diperpanjang.

"Oegroseno merupakan jenderal yang mempunyai integritas. Track record putra almarhum Brigjen Pol (Purn) Roestam Santiko tidak diragukan lagi dalam memimpin Polri. Saat menjabat sebagai Kapolda Sulawesi Tenggara, dia mampu menyelesaikan konflik antarkelompok masyarakat yang berkepanjangan di daerah itu," jelasnya.

Malik menambahkan, ketika menjabat sebagai Kepala Divisi Propam Polri, Oegroseno berhasil mengungkap dugaan rekayasa penangkapan kasus narkoba oleh oknum polisi terhadap seorang pemulung bernama Aan. Integritas Oegroseno dalam mengungkap kebenaran ini mebuat pengadilan akhirnya membebaskan Aan.

"Puncak dari prestasi Oegroseno ketika memimpin langsung operasi penyergapan perampok sadis Bank CIMB Niaga dan penyerangan Markas Polsek Hamparak Perak, saat penangkapan di perkebunan sawit di Dolok Masihol, Kabupaten Serdang Bedagai. Oegroseno ikut menyusuri sungai mengejar para pelaku. Bahkan, masyarakat dan anggota TNI yang simpatik terhadap Oegroseno, ikut bergadang di perkebunan untuk melakukan pengejaran," sebutnya.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (UMSU), Farid Wajdi mengatakan, Polri membutuhkan sosok pemimpin yang tegas, keras dan humanis di masyarakat. Pemimpin yang mempunyai integritas dan menolak intervensi dari eksternal Polri diyakini bisa merubah paradigma institusi seragam cokelat itu.

"Keberhasilan institusi itu ada di tangan pemimpinnya. Jika masyarakat memberikan apresiasi atas program visi dan misi dari pimpinan Polri, maka itu dapat dikategorikan sebagai keberhasilan. Dan, Oegroseno sudah banyak melalui pujian masyarakat itu. Pelopor "Jangan Ada Darah dan Air Mata di Bumi Pertiwi" itu memang layak untuk memimpin Polri," ungkapnya.

Menurutnya, banyak keberhasilan yang sudah dilakukan Oegroseno. Saat menjabat sebagai Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Oegroseno memberikan konsep pendidikan jarak jauh, baik itu untuk peserta didik Sekolah Pimpinan (Sespim), Setukpa dan lainnya. Ini dilakukan Oegroseno untuk menekan biaya yang dikeluarkan setiap peserta didik tersebut.

"Sebagai dari Lemdik, dan menjabat sebagai Kabaharkam Polri, Oegroseno juga mempunyai pemikiran yang positif, yakni memberlakukan Polisi Desa. Program ini dinilai positif karena bisa menekan pertumbuhan terorisme maupun kejahatan lainnya. Ini juga membawa nilai positif karena keberadaan polisi benar - benar ada dan dibutuhkan masyarakat. Dia juga pemimpin yang menghemat anggaran," imbuhnya.

Sementara itu, pengamat intelijen, Susanintyas Nefo Handayani Kertopati menilai, Komjen Pol Oegroseno merupakan sosok yang cerdas, memiliki integritas tinggi dan juga tegas. Namun di saat yang sama, dengan berbagai jabatan yang pernah diembannya, Oegroseno tetap rendah hati.

"Bahkan dirinya sering mengatakan bahwa bahwa dia lebih bangga dengan pekerjaanya daripada jabatannya," kata Susaningtyas menanggapi jabatan baru Wakapolri yang akan dijabat Oegroseno.

Menurutnya, Oegroseno juga dikenal memiliki insting yang kuat dalam menengarai sebuah kejadian. Mantan Kapolda Sulteng dan Kapolda Sumut ini pun sangat cepat membedakan mana aksi perampokan dan mana aksi terorisme.

"Ia tak merasa gentar terjun ke lapangan melakukan deteksi dini sampai melaksanakan criminal justice system yang benar," ungkap Nuning, panggilan akrab Susaningtyas. "Dapat kita yakini kehadirannya sebagai Wakapolri akan membawa angin segar bagi Polri," sebutnya.

Tempat terpisah, Koordinator Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (PMPHI), Gandi Parapat mengkhawatirkan, Kapolri pilihan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pengganti Jenderal Polisi Timur Pradopo bakal diganti setelah pemilu pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014 mendatang. Oleh karena itu, Presiden pun diharapkan mempertimbangkan pengangkatan calon Kapolri, yang bisa dipensiunkan lebih cepat dari masa dinas yang seharusnya berakhir di usia 58 tahun.

"Sudah menjadi tradisi setiap Presiden pemenang pemilu langsung menyusun kabinetnya, termasuk mengganti pimpinan dari aparatur penegak hukum. Kapolri pengganti Timur Pradopo bisa tetap menjabat jika Partai Demokrat (PD) kembali memenangkan Pilpres 2014 mendatang," ujarnya.

Gandi mengatakan, peluang PD untuk dapat memenangkan Pilpres tahun mendatang, bisa terjadi meski kemungkinan tersebut sangat tipis. Sebaliknya, jika calon presiden (Capres) yang diusung PD kalah dalam bursa pertarungan itu, justru berimbas pada Kapolri pilihan Presiden SBY. Artinya, Kapolri yang menjadi pilihan SBY bakal dipensiunkan lebih cepat.

"Mulai dari era Presiden Gusdur, Megawati Soekarnoputri, sampai kepemimpinan Presiden SBY. Saat memenangkan Pilpres di tahun 2004, SBY langsung mengangkat Kapolri baru. Kapolri masa kepemimpinan Jenderal Pol Dai Bachtiar langsung digantikan Jenderal Pol Sutanto. Saat itu, Dai Bachtiar dipensiunkan lebih cepat dari masa dinasnya masih 1,5 tahun," sebutnya.

Suara Pembaruan

Penulis: 155/FER

Sumber:Suara Pembaruan