Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia yang baru Komisaris Jenderal Oegroseno, saat diambil sumpah dalam upacara serah terima jabatan di ruang rupatama, Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (2/8). SP/Joanito De Saojoao

Jakarta - Pelantikan Komjen Oegroseno sebagai Wakapolri yang dilangsungkan di Gedung Rupatama Polri, Jumat (2/8), dan terpilihnya Irjen Badrodin Haiti mengisi jabatan Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan yang ditinggal Oegroseno, mengubah peta bursa calon Kapolri.

"Dengan naiknya Oegroseno sebagai Wakapolri maka peta politik Polri berubah total dan berputar 180 derajat," kata Ketua Indonesia Police Watch, Neta S Pane, Kamis (1/8).

Perubahan konstelasi politik di tubuh Polri terjadi karena posisi Wakapolri merangkap sebagai Ketua Dewan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti) yang bakal memimpin penjaringan calon Kapolri sebelum diserahkan kepada Kapolri dan presiden.

Sedangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan tetap mengajukan Kapolri yang baru ke DPR, awal September mendatang. Presiden belum berencana akan memperpanjang jabatan Kapolri Timur Pradopo yang menjabat saat ini. "Setidaknya sebelum September. Awal September sudah ada," kata juru bicara presiden Julian A Pasha, Kamis (1/8).

Naiknya Oegroseno sebagai Wakapolri maka yang terpilih sebagai Kapolri kelak diperkirakan tidak akan terlalu jauh jarak angkatannya dengan Oegroseno. "Dengan terpilihnya Oegroseno, maka Kapolrinya dipersiapkan Akpol (lulusan) 81 yakni Kabareskrim Komjen Sutarman atau bahkan 82 yakni Irjen Badrodin yang segera naik Komjen atau Kepala BNN Komjen Anang Iskandar," imbuh seorang sumber di Mabes Polri.

Saat ini lulusan angkatan 1981 sedang "di atas angin" yakni nama KSAD Jenderal Moeldoko yang saat ini diajukan Presiden SBY sebagai Panglima TNI, lalu Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Marsetio, dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Ida Bagus Putu.

Badrodin yang merupakan lulusan terbaik Akpol 82 Dan satu satunya bakal calon yang pernah lima kali jadi kapolda memilih merendah. Berulangkali disinggung namanya dipersiapkan untuk menjadi Tri Brata 1, jenderal asli Jember, Jawa Timur ini selalu berkomentar datar. "Jangan ngomong itu dulu Mas. Jabatan itu amanah dan saya siap ditempatkan dan melakukan yang terbaik," kata Badrodin.

Sementara peluang Kapolda Metro Jaya Irjen Putut Eko Bayuseno untuk duduk sebagai Kapolri, menipis. Selain nama-nama tersebut, terdapat juga Irjen Pol Budi Gunawan yang saat ini menjabat Kalemdikpol.

Dengan diangkatnya Komjen Badrodin Haiti sebagai Kabarhakam maka, peluang yang bersangkutan dipilih sebagai Kapolri terbuka lebar. Namun, bukan berarti menutup habis peluang Putut karena yang bersangkutan berpeluang naik pangkat menjadi jenderal bintang tiga. Apalagi, Putut merupakan mantan ajudan Presiden SBY.

Neta menilai, jika Putut tidak naik pangkat maka peluang kuat menjadi Kapolri adalah Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol) Komjen Budi Gunawan dan Haiti.

"Baik Budi maupun Haiti sama-sama punya pengalaman menangani wilayah maupun organisasi Mabes Polri. Haiti malah empat kali jadi Kapolda," ungkapnya.

Sementara pengamat Kepolisian Bambang Widodo Umar mengatakan, sejauh ini belum terjadi pergantian gerbong di tubuh Polri. Alasannya, para pimpinan Polri dari Kapolri, Wakapolri hingga Kepala Badan (Kaba) berbeda angkatan.

"Tetapi menurut saya yang penting Wakapolri bisa lebih tegas dan konsisten dalam meneruskan reformasi Polri yang tersendat sendat. Yang diharapkan Pak Oegroseno agar lebih konsepsional, tidak simbolis dalam membenahi Polri. Simbol polisi anti KKN harus diterapkan utamanya untuk membongkar pejabat tinggi (pati) pemilik rekening gendut," kata Bambang.

Komjen Pol Oegroseno masih berpeluang menjadi Kapolri jika Presiden SBY menolak dan meragukan kemampuan calon kandidat yang diserahkan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dan Kapolri. Jabatan Kapolri tidak mudah dimatematikan . Proses terpilihnya Timur adalah contoh bagaimana Presiden SBY akhirnya memilih jenderal kelahiran Jombang, Jawa Timur sebagai Kapolri menggantikan Kapolri saat itu Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD). Saat itu BHD sebenarnya hanya mengajukan nama Nanan dan Komjen Imam Sudjarwo sebagai calon penggantinya.

"Pemimpin yang pantas dan diyakini bisa membawa perubahan drastis di Polri itu adalah Oegroseno. Dia sosok jenderal yang sangat tegas, keras dan berprestasi. Selain tegas, dia juga pemimpin yang sangat humanis dan antikekerasan di masyarakat," ujar pemerhati masalah kepolisian, Malik Asalih Harahap kepada SP, Jumat (2/7).

Peluang Oegro terbuka karena penjaringan calon oleh Kompolnas membuat terjadinya polarisasi dan faksionalisasi di tubuh Polri. Oegro sebagai figur netral bisa menetralkan friksi tersebut. "Oegroseno itu tipikal jenderal dominan dan kerap berbeda dengan atasannya. Ingat kasus Oegroseno di Sulteng dan saat dia sebagai Kapolda Sumut. Artinya, kalau Oegroseno yang 78, dan Putut yang 84 jadi Kapolrinya, maka bisa-bisa Putut yang yuniornya 'digoreng' tiap saat ," kata seorang petinggi Polri yang tak mau disebutkan namanya.

Pada saat di Sulteng, Oegroseno berani menolak rencana eksekusi Tibo sehingga dia dicopot dari jabatannya oleh Kapolri saat itu, Jenderal Sutanto, dan digantikan oleh Badrodin Haiti. Sedangkan peristiwa di Medan adalah saat Jakarta menyatakan jika perampokan Bank CIMB Medan adalah aksi terorisme sedangkan Oegroseno malah menyatakan peristiwa itu kriminal murni.

Oegroseno mengaku tak tahu alasan Kapolri memilih dirinya sebagai orang nomor dua. Namun sejak awal mantan Kadiv Propam itu yakin jika dia akan terpilih sebagai Wakapolri.

Serah terima jabatan Wakapolri dari Nanan Soekarna kepada Oegroseno diyakini akan menjadi awal pergantian gerbong kepemimpinan di tubuh Polri, termasuk Kapolri. Sejauh ini, selain dari sisi kepangkatan maupun rekam jejak (track record), Oegroseno dinilai cukup memenuhi syarat menjabat posisi Wakapolri.

“Memang sudah harus diganti (Nanan Soekarna) sudah memasuki masa pensiun. Tentang Oegroseno, sepanjang yang saya tahu disamping kepangkatan memenuhi syarat, track record-nya juga baik,” kata Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia (UI), Muhammad Mustofa, Kamis (1/8).

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kedepannya masih memiliki tantangan cukup berat. Langkah reformasi total harus dilakukan Polri untuk menciptakan aparat yang dapat diandalkan masyarakat secara umum.

 

Lihat Juga Video Komjen Polisi Oegroseno Menjadi Wakapolri

Suara Pembaruan

Penulis: G-5/B1/Y-7/E-11/FMB

Sumber:Suara Pembaruan