Jakarta - Proyek air minum di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak pernah selesai. Bahkan tidak pernah dibangun. Padahal tiap tahun selalu mengalir anggaran untuk pembangunan air minum. Angka tiap tahun mencapai Rp
10 miliar. Kemana dana itu mengalir?

Informasi yang diperoleh dari sumber internal Pemerintah Daerah (Pemda) Mabar menyebutkan dana itu dikorupsi oleh sejumlah pejabat, baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Model korupsi berupa kerjasama untuk saling menutup dan mengamankan proyek.

"Tiap tahun, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Mabar menganggarkan hampir Rp 10 miliar untuk air minum di Labuan Bajo. Tetapi kini usia Mabar saudah lebih dari 10 tahun, air tetap tak pernah ada," kata sumber itu kepada di Jakarta, Jumat (9/8).

Ia menjelaskan air minum tidak pernah ada di Mabar karena proyek air minum sebagai sarana untuk korupsi. Artinya, air minum sengaja tidak diadakan agar tiap tahun tetap ada anggaran untuk dikorupsi. Pemenang tender air minum, tetap ada di lingkaran pejabat-pejabat yang itu-itu saja tiap tahunnya.

Di sisi lain, air minum sengaja ditiadakan melalui praktek korupsi agar bisnis tangki air minum oleh pejabat-pejabat tertentu, tetap lestari.

"Mafia tangki air kalau ditangkap oleh petugas Polisi Pamong Praja (Pol PP) selalu ada telpon dari pejabat tertentu bahwa bisnis air minum itu miliknya," tuturnya.

Menurutnya, praktik korupsi itu terutama dilakukan para pejabat yang rangkap menjadi pengusaha. Mereka itu yang dekat dengan bupati sehingga bupati pura-pura tutup mata untuk tidak menertibkannya.

"Bahkan mungkin sampai jabatan bupati tahun 2015 berakhir sekalipun, air minum tak akan pernah ada. Ini benar-benar ironi di Mabar," tegasnya.

Sumber itu menambahkan kasus korupsi sudah menggunung. Namun aparat penegak hukum tidak bekerja. Hal itu karena mereka juga mendapatkan bagiannya.

"Jaksa semua sudah dipegang. Ingat saja salah satu pimpinan DPRD sekarang yang sudah divonis Mahkamah Agung (MA) penjara 6 bulan tetapi dia tidak jalankan itu. Jaksa pura-pura datangi rumahnya untuk eksekusi tapi mereka sudah atur dengan terpidana menginap di apartemennya di Laguna, Jakarta Utara. Sehingga bolak-balik Jaksa ke rumahnya bersama Brimob dengan senjata lengkap, namun hanya sebagai sandiwara," tuturnya.

Bupati Manggarai Barat (Manbar), Agustinus Ch Dula mengaku tidak tahu mengenai korupsi proyek air minum tersebut. Namun dia mengakui ada krisis air minum di Mabar.

"Saya kurang tahu tentang hal itu.
Bahwa air krisis sejak lama itu betul. Maka kami usahakan tahun 2013 ini, bertepatan dengan Sail Komodo, air tidak boleh krisis lagi," kata Agustinus saat dihubungi, Jumat (9/8) malam.

Sebagaimana diketahui, Labuan Bajo akan menjadi tuan rumah kegiatan Sail Komodo yang digelar 14 September mendatang. Namun kegiatan itu bisa kacau karena saat ini, Labuan Bajo krisis air minum.

Suara Pembaruan

Penulis: R-14

Sumber:Suara Pembaruan