Bareskrim Diminta Periksa Keterlibatan Setya Novanto dalam Kasus Tambang Riung

Bareskrim Diminta Periksa Keterlibatan Setya Novanto dalam Kasus Tambang Riung
Setya Novanto, Ketua DPR. ( Foto: ANTARA FOTO )
Liberty Jemadu Selasa, 22 Oktober 2013 | 22:35 WIB

Jakarta - Forum Pemuda Nusa Tenggara Timur Penggerak Keadilan dan Perdamaian (Formadda NTT) mendesak Bareskrim Mabes Polri mengusut keterlibatan Setya Novanto, Anggota DPR RI dalam kasus tambang pasir besi di Riung, Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Desakan tersebut disampaikan Ketua Umum Formadda, Pastor Yohanes Kristoforus Tara OFM, saat beraudiensi dengan Kasubdit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Kombes Bahagia Dachi di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2012.

Audiensi ini berlangsung setelah sekitar 30-an anggota Formadda, serta sejumlah organisasi lain asal NTT melakukan aksi unjuk rasa menuntut penuntasan kasus pasir besi itu.

Menurut Kristo, informasi yang dihimpun Formada menunjukkan, PT Laki Tangguh Indonesia yang kini sedang melakukan eksplorasi di Mbopok, Desa Latung, Riung dan diduga terlibat dalam sejumlah pelanggaran pidana, merupakan perusahan yang memiliki kaitan dengan Setya Novanto.

“Kami menduga kuat dia (Setya Novanto) ada di balik kehadiran perusahan itu,” ujar Kristo.

PT Laki Tangguh, sudah dilaporkan Formadda NTT ke Tipiter Mabes Polri, 20 September lalu. Perusahan ini, diduga melakukan sejumlah tindak pidana. Bersamaan dengan PT Laki, Formadda juga melapor Bupati Ngada Marianus Sae.

Kristo menjelaskan keterkaitan politikus Golkar itu dengan PT Laki Tangguh terlihat dari awal keberadaan perusahaan tersebut di Riung, yang membawa nama bendera Novanto Center, sebuah Yayasan milik Setya Novanto.

“Yayasan ini membujuk masyarakat melalui pembagian sembako, beasiswa untuk beberapa anak, hand tractor, uang tunai, makanan tambahan, dan sunatan massal”, jelas Kristo.

Sebagian besar masyarakat, kata dia, menolak bantuan ini, kecuali beberapa orang yang yang mendukung tambang dan pekerja tambang. Dugaan itu, Kristo, diperjelas dengan fakta bahwa Direktur PT Laki Tangguh Indonesia, Muhamad Ansor, merupakan Ketua Yayasan Novanto Centre, yang beralamat di Jl. R.W. Monginsidi Raya No. 6 Kupang, NTT.

Seperti yang diberitakan sebelumnya PT Laki Tangguh dan Bupati Ngada, Marianus Sae, dilaporkan ke polisi karena diduga melakukan sejumlah pelanggaran pidana dalam kasus pertambangan pasir besi di Mbopok, Desa Latung, Riung, Ngada.

Indikasi pelanggaran pidana dalam kasus pertambangan itu terlihat dari waktu penerbitan izin usaha pertambangan (IUP) dan permohonan IUP yang tidak logis, kesalahan lokasi pertambangan, serta absennya kajian AMDAL dalam pertambangan tersebut.

Sumber: PR
CLOSE