Kampanye antitrafficking yang digelar beberapa waktu lalu
Penyebabnya tak hanya faktor kesehatan, tapi juga kemiskinan dan rendahnya pendidikan.

Dalam enam tahun terakhir kasus perdagangan anak (trafficking) sudah mencapai angka seribu jiwa.

Fakta ini tentu saja amat memrihatinkan dan menjadi mimpi buruk bangsa Indonesia, bahkan anak-anak yang menjadi korban trafficking.

Demikian yang dikemukakan Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih dalam Simposium Pengarustamaan Hak Anak dalam Mewujudkan Generasi Sehat dan Berdaya Saing Unggul di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dome, hari ini.

Ia menyebutkan, anak laki-laki yang menjadi korban trafficking selama enam tahun terakhir sebanyak 151 anak. Sedangkan perempuan mencapai 772 anak.

Kasus trafficking, lanjut Endang, tak hanya disebabkan oleh faktor kesehatan, tapi juga ada faktor dominan lainnya, yakni kemiskinan dan rendahnya pendidikan di lingkungan masyarakat.

Menurutnya, ada 10 daerah yang rawan terhadap kasus trafficking, baik sebagai kota pengirim, transit maupun tujuan, yakni Sumatera Utara, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, NTB, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara.

Endang menjelaskan, dampak dari perdagangan anak tersebut terhadap kesehatan adalah munculnya penyakit menular seksual secara luas, seperti sipilis, GO dan penyebaran virus sekaligus sindroma perapuh kekebalan tubuh (HIV-AIDS).

Penulis:

Sumber:Antara