Wapres Akui Ada Lobi Politik di Balik Tertundanya Eksekusi Mary Jane i

Mantan Wapres Jusuf Kalla

Oleh: Novi Setuningsih / FAB | Rabu, 29 April 2015 | 15:54 WIB

Jakarta - Pemerintah Indonesia akhirnya mengabulkan permintaan Filipina untuk menunda pelaksanaan eksekusi mati terhadap warga negara Filipina, Mary Jane Veloso. Wakil Presiden (wapres), Jusuf Kalla (JK) mengakui bahwa ada lobi politik yang dilakukan Presiden Filipina, Benigno Aquino III kepada dirinya dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait penundaan pelaksanaan hukuman mati tersebut.

JK mengungkapkan, dalam rangkaian acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Malaysia, presiden Filipina melobi dirinya guna menjelaskan perihal kasus Mary Jane.

Namun menurut JK, lobi politik tersebut adalah hal yang biasa dilakukan dalam hubungan internasional.

"Lobi politik itu biasa saja dalam suatu hubungan kenegaraan. Lobi itu sangat penting, tapi masalahnya, kita ingin meletakkan hukum itu secara baik," kata JK di kantor Wapres, Jakarta, Rabu (29/4).

JK mengungkapkan, otoritas Filipina menjelaskan bahwa sindikat yang berada di belakang Mary Jane sudah menyerahkan diri, sehingga yang bersangkutan dibutuhkan untuk membuktikan dakwaan kepada sindikat itu.

Oleh karena itu, lanjut JK, pemerintah Indonesia berada dalam posisi menunggu proses hukum di Filipina.

JK juga menyatakan bahwa ia mewakili pemerintah Indonesia, meminta agar Filipina menghukum berat sindikat yang berada di belakang Mary Jane.

"Kita minta pemerintah Filipina tentu bertindak yang keras, kepada sindikatnya harus lebih keras dibanding kepada yang dikatakan hanya kurir," tegas JK.

Sebelumnya, Presiden Jokowi membantah ada lobi politik di balik tertundanya eksekusi mati terhadap Mary Jane.

Eksekusi seharusnya dilakukan pada Rabu (29/4) dini hari.

Sekretaris Kabinet (seskab), Andi Widjajanto menjelaskan, pemerintah menerima pemberitahuan bukti baru dari Migrant Care dan Presiden Aquino mengaku langsung menghubungi Presiden Jokowi tentang hal yang sama.

Bukti baru tersebut adalah penyerahan diri Maria Kristina Sergio, yang diduga sebagai perekrut Mary Jane untuk menyelundupkan heroin ke Indonesia.

Sergio menyerahkan diri bersama suaminya, Julius Lacanilao, yang juga menghadapi tuduhan rekrutmen ilegal.

Dalam pengakuannya, Sergio mengatakan, dia mendapat ancaman pembunuhan dari nomor tak dikenal dalam ponselnya. Orang tua Veloso, tambahnya, juga mengancam lewat Facebook.

Seperti diberitakan sebelumnya, Mary Jane tertangkap di Bandara Adi Sutjipto, Daerah Istimewa Yogyakarta karena membawa heroin seberat 2,6 kilogram, dengan cara diselipkan di dalam koper yang telah dijahit.

Namun dalam pembelaannya, Mary Jane mengatakan bertemu dengan Sergio dan suaminya di Malaysia pada 2010, sebelum kemudian dikirim ke Indonesia.

Oleh dua orang itu, ia mengaku diberi tas kosong dan harus membawanya ke Indonesia, dengan iming-iming mendapatkan pekerjaan di Malaysia sebagai pembantu rumah tangga.

Mary Jane akhirnya tertangkap di Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta.


Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT