Panglima: TNI Berada di Belakang Presiden

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (kiri) memberi hormat kepada Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) usai memberi sambutan dalam acara buka puasa bersama di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta, 19 Juni 2017. (Antara/Rosa Panggabean)

Oleh: Robertus Wardi / PCN | Senin, 19 Juni 2017 | 20:06 WIB

Jakarta - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meyakinkan Presiden Joko Widodo bahwa seluruh pasukan TNI berada di belakangnya. TNI berada dalam sistem garis komando yang jarang melakukan tindakan pembangkangan.

"TNI berbeda dengan organisasi lain, TNI mengutamakan kesatuan garis komando. Di sini yang diutamakan kesatuan komando karena TNI dilengkapi dengan persenjataan dan Alutsista yang sangat mematikan. Kesatuan garis komando ini yang harus dipegang teguh,"‎ kata Gatot dalam acara buka bersama di Markas Besar (Mabes) TNI, Jakarta Timur, Senin (19/6).

Hadir pada acara itu, Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPD Oesman Sapto Odang (OSO), Ketua MA Hatta Ali, Kapolri Tito Karnavian, dan ribuan prajurit TNI.

Gatot menjelaskan, garis komando tertinggi di TNI berada di tangan presiden. Garis itu kemudian diteruskan ke Panglima TNI. Dari panglima kemudian diteruskan lagi ke bawah seperti para kepala staf, panglima Kodam, hingga lapisan paling bawah.
 "Saya jamin garis komando di TNI terlaksana. Kalau tidak terlaksana saya yang tanggung jawab," ujar Gatot.

Dia meminta presiden agar tidak meragukan garis komando TNI. Dikatakan, TNI siap diterjunkan dalam kondisi apa pun karena yakin garis komandonya berjalan. Apalagi, untuk membela negara ini supaya tetap tegak berdiri.

"Prajurit TNI tidak mengenal kata gagal dalam melaksanakan tugasnya. TNI bahkan melakukan segala upaya agar tugas terlaksana dengan baik, sebab kegagalan akan berujung pada hancurnya NKRI," tegas Gatot.

Dia menambahkan, jika saat ini ada riuh atau gaduh, termasuk upaya menarik TNI, hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Apa yang terjadi, ujarnya, hanya bumbu-bumbu kecil sebagai upaya TNI mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.

"Ini yang perlu bapak yakini. Kalau sekarang ada riuh, itu hanya bumbu saja dan itu cara agar TNI tetap utuh," tutupnya.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT