BNPT Minta Pemda Turut Pantau Warga yang Dideportasi Turki

Suhardi Alius. (Antara)

Oleh: Fana Suparman / PCN | Minggu, 23 Juli 2017 | 09:01 WIB

Jakarta- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meminta pemerintah daerah untuk turut memantau warga yang dideportasi ‎dari Turki atau negara mana pun saat hendak menuju Suriah. Kepala BNPT, Komjen Pol Suhardi Alius telah meminta Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo untuk memerintahkan para kepala daerah agar mengawasi secara penuh para warga yang dideportasi, termasuk keluarga dan mantan napi teroris saat kembali ke rumahnya.

"‎Saya sudah minta ke Mendagri, tolong ke mana keluarga itu mau pulang, Pemda harus jemput dan mengantar sampai di rumah. Biar tahu persis di mana tinggalnya lalu dimonitor bergaul sama siapa, apa aktivitasnya," kata Suhardi usai diskusi Radikalisme di Timur Tengah dan Pengaruhnya di Indonesia yang digelar Bela Negara Alumni Universitas Indonesia (Bara UI) di Jakarta, Sabtu (22/7).

Suhardi mengatakan, keterlibatan pemda ini diperlukan lantaran tak ada jaminan warga yang dideportasi dari Turki ini tidak lagi terpengaruh paham radikal. Meskipun, sebelum kembali ke rumah masing-masing, warga tersebut sudah menjalani program deradikalisasi di panti sosial Marsudi Putra Handayani milik Kementerian Sosial (Kemsos) di Bambu Apus, Jakarta Timur selama sebulan dengan pendampingan dari berbagai pihak seperti Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah hingga psikolog.

"Karena memang waktu sebulan di Kemsos tidak menjamin kembali baik meski sudah didampingi oleh pihak dari NU, Muhamadiyah hingga psikolog," katanya.

Diketahui, setiap WNI yang dideportasi karena hendak menuju ke Suriah dan diduga terlibat kelompok ISIS akan dibawa ke Panti Marsudi Putra Handayani milik Kemsos di Bambu Apus, Jakarta Timur. Selama sebulan penuh, warga yang dideportasi ini menjalani program deradikalisasi dengan didampingi oleh Kemsos dan berbagai pihak lainnya.

Namun, Suhardi mengakui, waktu satu bulan tidak cukup untuk memastikan mereka terbebas dari paham radikal. Hal ini lantaran para warga itu sudah cukup lama terpapar paham-paham radikal.

"‎Setelah dideportasi mereka dibawa ke Bambu Apus, di sana diberi pemahaman selama sebulan penuh baru dipulangkan ke kampung halaman. Ini waktu yang sebentar dan tidak menjamin mereka bersih dari radikalisme," katanya.

Diketahui, sejak perang berkecamuk di Suriah beberapa tahun lalu, terdapat ratusan warga negara Indonesia (WNI) yang dideportasi Turki karena diduga hendak bergabung dengan ISIS. Sejak 2015 hingga 2017, Turki telah mendeportasi sebanyak 430 WNI. Rinciannya, sebanyak 193 WNI dideportasi pada 2015, 60 WNI pada 2016, dan 177 WNI pada 2017.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT