Kasus Penganiayaan Hingga Tewas, 9 Taruna Akpol Divonis 6 Bulan

Ilustrasi Pengadilan (istimewa) (berita satu)

Oleh: Stefi Thenu / WBP | Jumat, 17 November 2017 | 19:26 WIB

Semarang - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Semarang memvonis enam bulan kepada sembilan taruna Akademi Kepolisian (Akpol) dalam kasus penganiayaan hingga menewaskan juniornya, Mohamad Adam, Jumat (17/11). Namun taruna tingkat III Akpol itu langsung bebas karena hukuman tersebut setara dengan masa penahanan yang sudah dijalani. Vonis hakim sesuai tuntutan jaksa penuntut umum.

“Majelis hakim memutuskan kesembilan terdakwa terbukti bersalah dan melanggar Pasal 170 ayat (1) KUHP seperti didakwakan jaksa penuntut umum. Oleh karena itu, kesembilan terdakwa dijatuhi hukuman 6 bulan penjara potong masa tahanan. Terdakwa bisa bebas setelah keputusan ini,” ujar Cusmaya.

Mereka dinyatakan bisa bebas karena telah menjalani masa tahanan sejak Mei 2017 lalu.

Menanggapi keputusan hakim, kesembilan terdakwa melalui kuasa hukumnya menyatakan pikir-pikir. Mereka diberi waktu tujuh hari untuk mengajukan banding. “Kami berterima kasih atas keputusan yang diberikan Majelis Hakim. Ini juga pasti ada yang terima dan tidak terima. Yang jelas kami patut bersyukur bahwa nurani majelis hakim masih ada di Indonesia," kata salah satu kuasa hukum terdakwa, D Djunaedi usai persidangan.

Ia mengatakan pihaknya akan berkonsultasi apakah keputusan tersebut bisa diterima atau tidak. “Tentunya akan kami konsultasikan kepada klien apakah menerima atau tidak, yang jelas ini semua adalah usaha kita semua,” ujarnya.

Vonis hakim kepada sembilan taruna Akpol tersebut disambut gembira keluarga para terdakwa yang hadir dalam persidangan. Isak tangis haru menyelimuti ruang sidang setelah sidang vonis selesai.

Sebelumnya, sembilan taruna tingkat III Akpol Semarang yakni Joshua Evan Dwitya Pabisa, Reza Ananta Pribadi, Indra Zulkifli Pratama Ruray, Praja Dwi Sutrisno, Aditia Khaimara Urfan, Chikitha Alviano Eka Wardoyo, Rion Kurnianto, Erik Aprilyanto, dan Hery Avianto didakwa melakukan penganiayaan yang menyebabkan tewasnya taruna tingkat II, Brigdatar Mohamad Adam, pertengahan Mei lalu.

Selain mereka, ada lima taruna tingkat III lainnya yang juga duduk kursi pesakitan atas kasus penganiayaan yang sama. Namun kelima taruna tersebut belum menerima keputusan karena menjalani sidang secara terpisah.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT