Terdakwa Umar Patek dikawal petugas kepolisian sebelum mengikuti sidang di PN Jakarta Barat. FOTO : BAGUS INDAHONO/EPA
Patek yang bertetanggga dengan Dulmatin sejak kecil di Pemalang, Jawa Tengah, telah banyak menghabiskan waktu bersama berkaitan dengan ajaran mengenai jihad.

Keikutsertaan terdakwa Umar Patek dalam kasus terorisme Bom Natal tahun 2000 dan Bom Bali tahun 2002,  tidak jauh dari peran serta teman dekatnya, Dulmatin, teroris yang ditembak mati di Pamulang Maret tahun lalu.

Patek yang bertetanggga dengan Dulmatin sejak kecil di Pemalang, Jawa Tengah, telah banyak menghabiskan waktu bersama berkaitan dengan ajaran-ajaran agama terutama mengenai jihad.

Keterlibatan Patek pada Bom Natal di Jakarta pada tahun 2000 silam berawal dari kepulangan dirinya dari Filipina pada Desember 2000 ke Pemalang, Jawa Tengah, Indonesia.

Patek yang telah tinggal di Filipina untuk turut menjaga camp militer milik Abu Bakar ASy-Syidiq kembali pulang ke Indonesia karena keadaan di Filipina yang tidak kondusif. Di Pemalang, Patek kembali bertemu dengan kawan sejak kecilnya tersebut, Dulmatin.

"Tidak lama saya pulang, Dulmatin pergi ke Jakarta, katanya ada kerjaan di sana, tapi waktu ditanya kerja apa, tidak dijawab. Dia cuma bilang, 'kalau sudah tertata, kamu ikut saya ke Jakarta.' Entah apa dirinya tidak mau sebut," ungkap Patek, saat pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Senin (7/5).

Dilanjutkan Patek, setelah beberapa hari kepergian Dulmatin ke Jakarta, dirinya mendapat perintah untuk menyusul ke Jakarta. Di Jakarta, Patek tinggal di suatu rumah dan di rumah itulah pertama kalinya Patek bertemu dengan Imam Samudera.

"Di situ bertemu Imam Samudera. Dulmatin juga suka bermain handphone, tapi ga tau sama siapa," ujar pria kelahiran Pemalang yang mulai belajar tentang ilmu agama dan jihad pada tahun 1991 bersama Dulmatin.

Dalam pertemuannya dengan Imam Samudera, diakui Patek, Imam pernah mengaku ingin balas dendam untuk sejumlah umat muslim yang ada di Ambon dan Poso.  "Mau ledakin gereja-gereja Jakarta katanya," kenang Patek.

Patek pun membalas dengan pertanyaan mengapa kalau memang ingin membalas dendam tidak di Ambon dan Poso saja? Pasalnya, menurut Patek, di sanalah tempat konflik terjadi.

Keyakinan Patek pada saat itu, meledakkan gereja dilarang oleh Islam, bertentangan dengan perintah Rasulullah.  "Imam Samudera bilang gereja adalah tempat menyimpan senjata untuk serang Islam," ungkap terdakwa.

Di sanalah Patek tidak dapat melawan karena Imam Samudera lebih senior dibanding dirinya. Kemudian Patek mendapat perintah untuk membantu Dulmatin meramu bahan peledak.

Patek juga mengaku dalam persidangan bahwa dirinya tidak mengetahui darimana asalnya bahan-bahan peledak tersebut.

"Tidak tahu, saya lihat bahan jadi peledak dari campuran, ada arang, sulfur, potasium klorat, di rumah kontrakan Imam Samudera. Dulmatin saat itu tumbuk arang, saya yang mengayak pakai saringan santan biar halus. Hari selanjutnya Dulmatin yang meramu, lalu saya yang memasukkan sekilo-kilo ke plastik," jelasnya.

Tiap malam sebelum terjadinya pengeboman tersebut, Dulmatin, lanjut Patek, membuat rangkaian elektronik untuk bomnya. Menurut Patek, kemampuan Dulmatin merangkai bom tersebut berasal dari Afghanistan. "Semua personil yang pernah ke Afghanistan, pasti bisa meramu peledak."

Pada hari berikutnya, yakni pada tanggal 23 Desember 2000, terpidana mati terorisme lainnya, Mukhlas datang ke rumah Imam Samudera.  "Abis sholat tarawih, Mukhlas kasih tausiah bertiga," ujar Patek.

Lalu pada 24 Desember 2000, pada sore hari, Dulmatin membawa bahan peledak yang sudah dibungkusi ke kotak kardus sebesar kotak tissue.  "Ada yang tas jinjing yang berisi device elektronik. Dulmatin yang bungkusin. 'Kamu tunggu di sini, saya mau keluar, nanti jam 9 ya bawa kamu, kita pulang ke Pemalang,' kata Dulmatin. Lalu saya baca Al-Quran nunggu buka puasa," tutur Patek.

Tidak ada sejam dari itu, Dulmatin kemudian datang menggunakan mobil dengan disupiri Edi Setiono menjemput Patek. Dalam mobil tersebut, Dulmatin kemudian mengatur jam didalam kotak.

"Semua diset jam 00.00, pake jam alarm, kayak yang dijual di pinggir jalan. Tinggal dipencet pas jam 9 katanya," ujar Patek, sambil menjelaskan di dalam mobil tersebut terdapat tiga tas jinjing dan 10 kotak.

Ledakan malam Natal pada tahun 2000 lalu yang dilakukan oleh Dulmatin dan rekan-rekannya terjadi di Gereja Katedral, Sekolah Kanisius Menteng Raya, Gereja Matraman, Gereja Koinonia Jatinegara, dan Gereja Oikumene Halim. Ledakan tersebut telah merenggut ratusan nyawa tewas.
-

Penulis: