KPK Dalami Rekaman Percakapan Idrus Minta US$ 2,5 Juta

KPK Dalami Rekaman Percakapan Idrus Minta US$ 2,5 Juta
Idrus Marham. ( Foto: Antara / Reno Esnir )
Fana Suparman / FMB Jumat, 9 November 2018 | 09:58 WIB

Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami sejumlah fakta yang muncul dalam persidangan dugaan suap proyek PLTU Riau-1 dengan terdakwa pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited Johannes B Kotjo. Salah satu yang didalami penyidik yakni mengenai rekaman percakapan antara Idrus dan Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi Golkar Eni Maulani Saragih. Dalam rekaman tersebut Idrus diduga meminta uang sebesar US$ 2,5 juta kepada Johannes. Uang itu diduga sebagai modal menjadi Ketua Umum Partai Golkar.

"Penyidik perlu memperdalam beberapa fakta terkait hal tersebut," kata Jubir KPK, Febri Diansyah melalui pesan singkat, Jumat (9/11).

Rekaman percakapan antara Idrus dan Eni ini diperdengarkan Jaksa KPK dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (1/11) lalu. Saat itu, Idrus dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa Johannes Kotjo.

Untuk mengusut hal ini, tim penyidik memeriksa Idrus sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan Eni Maulani Saragih pada Kamis (8/11). Dalam pemeriksaan ini, tim penyidik kembali memperdengarkan rekaman percakapan tersebut kepada Idrus.

"Terhadap Idrus Marham yang diperiksa sebagai saksi, tadi diperdengarkan rekaman komunikasi antara dirinya dengan ES (Eni Saragih) terkait US$2,5juta," kata Febri.

Dijelaskan Febri, pemeriksaan terhadap Idrus ini penting dilakukan untuk merampungkan berkas penyidikan Eni. KPK berencana segera merampungkan berkas penyidikan Eni dan melimpahkannya ke pengadilan untuk disidangkan.

"Ada beberapa yang perlu diperiksa lebih lanjut nanti kalau sudah selesai semua penyidikan, tentu kami akan melimpahkan ke penuntutan," katanya.

Usai diperiksa tim penyidik, Idrus berkilah pernah meminta uang US$2,5 juta seperti dalam rekaman percakapan dengan Eni. Idrus meminta awak media untuk mengkonfirmasi hal tersebut kepada Eni.

"Enggak pernah saya bilang-bilang ke Kotjo. Ah mana. Nanti sama ibu Eni saja," katanya.

Idrus yang juga mantan Menteri Sosial hanya mengaku diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan Eni. Namun, Idrus tak menjelaskan secara rinci materi pemeriksaan yang dijalaninya.

"Saya ditanya beberapa hal yang saya kira itu penting dalam rangka untuk melengkapi hak yang diperlukan dalam rangka pelimpahan berkas-berkas Ibu Eni," katanya.

Diketahui, KPK menetapkan mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi Golkar Eni Maulani Saragih, pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited Johannes B Kotjo, dan mantan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1. Eni dan Idrus diduga bersama-sama menerima hadiah atau janji dari Kotjo. Suap ini diberikan agar Eni dan Idrus memuluskan perusahaan Kotjo untuk turut menggarap proyek PLTU Riau-1.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE