Sejumlah anggota kepolisian mengumpulkan barang bukti dari lokasi baku tembak antara Densus 88 dengan terduga teroris di Jl Veteran, Tipes, Solo, Jumat (31/8) malam. Dalam baku tembak tersebut dua orang terduga teroris dan satu anggota densus 88 tewas tertembak.
Jaringan terorisme di Indonesia adalah jaringan yang sangat besar.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengatakan aksi terorisme yang kembali timbul di tanah air di Solo, Depok, dan Jakarta belakangan ini adalah bagian dari simpul jaringan besar yang masih aktif.

Menurut Ansyaad, jaringan terorisme di Indonesia adalah jaringan yang sangat besar. Aksi di Solo adalah bagian dari satu simpul jaringan besar yang bergerak di seluruh Indonesia. Begitu juga dengan ledakan bom di Depok, dan juga penemuan bahan peledak di kediaman Toriq di Tambora, Jakarta Barat.

Ansyaad menjelaskan, mulai dari terjadi Bom Bali I tahun 2002, terungkap jaringan Jamaah Islamiyah (JI). Setelah JI terungkap dan bubar, para anggotanya terpisah menjadi banyak kelompok yang disebut sel. Mereka pun, lanjut dia, membentuk Jemaah Anshorut Tauhid (JAT) yang merupakan organisasi teroris.

"Sel ini bisa merekrut masing-masing antar sel, saling berhubungan, Mereka terikat pada satu ideologi radikal dan memiliki agenda utama mendirikan suatu kekhalifahan berdasarkan syariat dan memusuhi empat pilar bangsa," papar dia.

Substansi propaganda radikalisasi, menurut Ansyaad, adalah menanamkan kebencian, meyebarkan permusuhan karena perbedaan paham, agama dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, Ansyaad menjelaskan bahwa pendekatan lunak seperti deradikalisasi akan menjadi fokus utama pemerintah dalam penanganan terorisme. Selama ini menurutnya, yang terlihat di publik adalah pendekatan keras (hard approach), di mana terjadi ledakan bom kemudian penembakan dan penangkapan oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.

"Sebetulnya pendekatan persuasif ini sudah banyak dilakukan instansi terkait, bahkan oleh masyarakat sendiri, seperti ulama. Tapi tidak mengemuka," ujar purnawirawan jenderal polisi itu.

Ansyaad mengakui, saat ini Indonesia memang belum berhasil meredam akar terorisme. Hal itu menurutnya karena ada banyak hal yang memengaruhi, bukan hanya faktor tunggal.

"Korelasi dari semua faktor itu mengkristal menjadi rasa ketidakadilan. Ini yang selalu dieksploitasi dengan menggunakan paham-paham radikalisme, apalagi mengatasnamakan agama. Itulah yang kemudian memicu aksi-aksi terorisme," tuturnya.

Untuk kasus Toriq, Ansyaad mengatakan saat ini aparat kepolisian sedang mendalami perannya, dan apakah dia termasuk "calon pengantin" yang dipersiapkan oleh jaringan (teroris). Seperti diketahui, Toriq adalah terduga pemilik bahan peledak yang ditemukan di Tambora, Jakarta Barat, beberapa hari lalu.

Penulis: