Ilustrasi bom.
Santoso adalah bagian jaringan Abu Tholut alias Mustafa yang diyakini polisi merupakan panglima perang JAT.
 
Meski pelaku yang meledakan dua bom di Poso, Sulawesi Tengah pada Selasa (9/10) malam belum tertangkap, tapi Detasemen Khusus 88/Antiteror yakin jika ledakan adalah provokasi kelompok teroris.
 
Seorang penyidik Densus/88 yang tak mau disebut namanya saat dihubungi Rabu (10/10) siang mengatakan, "‎​Melihat sasarannya, yakni seorang yang beragama Kristen dan gereja, hampir bisa dipastikan ini adalah pekerjaan kelompok Santoso yang kini kita kejar. Mereka ingin  membuat Poso (jadi wilayah konflik) seperti dulu lagi."
 
Ali Fauzi, adik Amrozi (terpidana mati Bom Bali 2002 yang telah di eksekusi mati), juga menyatakan pendapat yang sama. "Ya, saya juga menduga ini kelompok lama yang biasa bermain di Poso," tegas dia.
 
Santoso adalah buron kasus teror nomor wahid saat ini. Namanya selalu muncul dalam setiap pengungkapan kasus terorisme.
 
Santoso adalah bagian jaringan Abu Tholut alias Mustafa yang diyakini polisi merupakan panglima perang Jamaah Anshoru Tauhid (JAT). Hanya saja JAT berulangkali membantah dan menyatakan jika Tholut sudah keluar dari JAT.
 
Nama Santoso kembali muncul ada Senin (8/10) saat Densus 88/Mabes Polri menangkap buron teror bernama Imron di Palu, Sulawesi Tengah tak jauh  dari Poso. Imron merupakan lulusan Pondok Pesantren Darussaadah, Boyolali, Jawa Tengah.
 
Pondok Pesantren ini adalah tempat di mana salah satu aktor pelaku bunuh diri dalam Bom Bali 2005 bernama Salik Firdaus menuntut ilmu.
 
Imron terkait dengan latihan para militer di Poso. Dia adalah kurir kelompok yang dipimpin Santoso. Imron juga adalah fasilitator  pelatihan, pembeli senjata api, dan belajar membuat bom untuk kelompok Solo dan Muhammad Torik di Tambora, Jakarta Barat.
 
Poso pernah diguncang konflik antar agama di masa lalu. Ratusan orang menjadi korban sia-sia. Sel teroris Jamaah Islamiah juga pernah  beroperasi di Poso. Mereka bahkan berencana menjadikan Poso sebagai qaidah aminah atau basis perjuangan.

Penulis: