Ilustrasi Densus 88
Upik bukanlah nama baru dalam dunia teror. Namanya tersangkut dalam beberapa kasus pengeboman.

Kendati  Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah mengatakan jika  seseorang yang diduga Upik Lawanga telah tertangkap, namun hal berbeda diungkapkan oleh penyidik Detasemen Khusus 88/Antiteror Polri.

Seorang perwira yang berdinas di detasemen berlambang Burung Hantu itu  memastikan jika yang ditangkap di Nunukan, Kalimantan Timur sebagaimana dugaan BNPT bukanlah Upik Lawanga.

"Orang yang katanya Upik Lawanga itu awalnya ditangkap oleh ‎​Den Intel Kodam setempat. Kemudian dia diserahkan ke Polres Nunukan dan diperiksa di sana. Hasilnya, tidak benar dia Upik Lawanga," kata sumber yang tak mau disebutkan namanya saat dihubungi, Sabtu (10/11).

Apakah akan dibawa ke Jakarta untuk memastikan dia bukan Upik dan darimana yakin jika dia bukan Upik yang  dicari? "Tidak akan kita bawa ke Jakarta. Untuk apa, buang-buang  anggaran saja. Kita yakin dia bukan Upik dari wajah dan data-data lainnya. Tak perlu juga ada tes DNA," jawab sumber yang kenyang memburu buron teror kelas wahid ini dengan yakin.

Sumber itu mengatakan jika peristiwa "Upik palsu" ini mengingatkannya pada saat seseorang yang bernama Jejen alias Ahmad Djaelani ditangkap di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, pada Oktober 2005 lalu oleh aparat setempat karena  dikira dia adalah pakar bom, Dr Azhari, yang saat itu dikejar Densus/88.

Jejen yang berwajah mirip Azhari itu semakin dicurigai karena dia ternyata  mempunyai banyak KTP disakunya yang antara lain bernama Edy Susanto dan Edy Susilo.

Kecurigaan bertambah saat Jejen berada di Pulau Rote dengan tujuan hendak menyebrang ke Australia dengan menyewa perahu milik nelayan setempat.

Sebagaimana diketahui, Azhari akhirnya tertembak mati di Batu, Malang, Jawa Timur pada November 2005.

"Densus  88 bekerja berdasarkan hasil kombinasi IT dan intelejen. Kita tidak  pernah menangkap seorang pelaku karena kebetulan. Sebelum menangkap kita melakukan surveillance secara mendalam lebih dulu. Jadi, dalam kasus ini, karena awalnya ditangkap aparat lokal, setelah kita cek, kita  pastikan dia bukan Upik Lawanga," kata sumber itu tapi tak menjelaskan siapa identitas lelaki tersebut.

Seperti diberitakan, Sekretaris  Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Marsekal Chairul Akbar mengatakan pada The Jakarta Globe Jumat (9/11) jika ada dua orang terduga teroris yang ditangkap di Nunukan, Kalimantan Timur.

"Kami  menduga salah satunya adalah Upik Lawanga. Seperti tersangka teroris lainnya, Upik memiliki banyak nama dan kita temukan beberapa KTP. Jadi kita akan hati-hati dan akan melakukan tes DNA," katanya saat itu.

Upik bukanlah nama baru dalam dunia teror. Namanya tersangkut dalam beberapa kasus pengeboman seperti pembuatan bom untuk meledakkan hotel JW  Marriott dan Ritz Carlton pada  2009 yang menewaskan tujuh orang dan melukai puluhan lainnya.

Di Poso, Upik yang merupakan ahli bom anak didik  Dr Azhari ini juga meninggalkan jejak. Dia diduga terlibat dalam pemenggalan tiga siswi Kristen di Poso pada tahun 2005, dan penembakan Pendeta Susianti Tinulele di Gereja Effata di Palu pada tahun 2004.

Penulis: /WBP