Karo Penmas Polri Brigjen Boy Rafli Amar
Mabes Polri membantah jika mutasi dua pejabat teras Polri berpangkat  Komisaris Jenderal (Komjen) yang terasa tidak mulus dikarenakan unsur  Dewan Jabatan Tinggi (Wanjakti) tidak satu suara.

Pergantian kursi bintang tiga itu lebih karena proses internal di Polri yang belum tuntas.

Hal ini dinyatakan Karo Penmas Polri Brigjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri (10/12) menanggapi proses mutasi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Gories Mere, yang sebenarnya baru akan habis masa jabatannya pada akhir Desember 2012 namun malah telah diganti dengan pejabat baru.

Sementara posisi Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Kabaintelkam)  Komjen Pratiknyo yang telah habis sejak akhir November, malah belum diganti pejabat baru.

"Pergantian jabatan di Polri, termasuk jabatan teras semacam ini, memerlukan proses mekanisme pemilihan (melalui) sidang Wanjakti Polri. Ini proses penempatan bagi pejabat berikutnya yang sesuai dengan mekanisme dan proses internal,” kata Boy.

Soal Gories yang belum pensiun namun sudah diganti, dan Pratiknyo yang sudah masuk pensiun malah terus menjabat, Boy menjelaskan, "Dikarenakan kebutuhan pejabat di BNN yang penting, yang (juga) sama pentingnya dengan lainnya. (Pos) Gubernur Akpol yang ditinggalkan Pak Anang Iskandar (yang  terpilih menjadi Kepala BNN yang baru) kan harus diisi juga dengan  (mekanisme) Wanjakti. Ini lebih ke proses internal kepolisian."

Sebelumnya beredar kabar jika tidak mulusnya pergantian saat ini terjadi karena para pejabat tinggi Polri belum sepakat soal pejabat baru yang dipilih. 

Maklum saja, kendati sudah berulangkali dibantah, namun Kapolri Jenderal  Timur Pradopo sering dikabarkan tidak klop dengan Wakapolri Komjen Nanan Soekarna. Kedua orang yang merupakan rekan seangkatan di Akpol lulusan 1978 ini memang cenderung memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda.

Nanan yang ditanya soal ini, Minggu (9/12) malam juga hanya menjawab singkat.

"Pak Irjen Anang Iskandar telah ditunjuk sebagai Kepala BNN (dan akan  Sertijab pada Selasa). Sudah ada TR-nya (Telegram Rahasia), sedangkan  posisi Kabaintelkam belum ada TR-nya," jawabnya.

Nanan mengakui jika sebenarnya masa dinas Kabaintelkam telah habis lebih dulu dibandingkan Kepala BNN. Namun, dia mengaku tak mengetahui mengapa  justru prosesnya Gories yang diganti lebih dulu.

"Kalau soal itu, tanya Pak TP (Kapolri Jenderal Timur Pradopo). Yang jelas posisi Kabaintelkam minggu ini sudah harus diserahterimakan kepada  Wakabaintelkam (Irjen Suparni Parto). Namun Pak Parni akan ditunjuk  sebagai Pelaksana Tugas (Plt), bukan Kabaintelkam," beber Nanan.

Seperti diberitakan, struktur di level atas Mabes Polri dipastikan akan  mengalami perombakan cukup penting tahun ini. Hal itu karena dua pejabat  yang duduk di pos bintang tiga (Komjen) Polri akan memasuki masa  pensiun.

Siapa pun yang akan duduk di kursi bintang tiga tersebut, namanya akan otomatis masuk ke dalam bursa calon Kapolri, menggantikan Jenderal Timur Pradopo yang akan pensiun pada Januari 2014.

Sebelumnya, sumber di Mabes Polri mengatakan jika nama Irjen Budi Gunawan masuk sebagai calon Kepala BNN dan namanya sudah di meja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sumber yang tidak mau disebutkan namanya ini saat itu juga menyebutkan jika Suparni Parto muncul sebagai calon kuat Kabaintelkam.


Penulis: