ilustrasi penangkapan teroris di Poso (AFP)
Polisi berharap masyarakat bisa membantu mengenali guna memudahkan penangkapannya.

Mabes Polri terus memutar otak untuk menangkap buron nomor satu di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), yakni Abu Wardah alias Santoso alias Abu Yahya, yang diduga kuat berada di balik serangkaian teror di sana.

Salah satu caranya, markas korps baju cokelat itu akan menyebarkan poster Santoso, serta mengharapkan masyarakat untuk membantu mengenalinya guna memudahkan penangkapannya.

"Kita akan menyebarkan poster (wajahnya). Penyebaran fotonya itu akan kita lakukan, karena dia kan juga pernah ditahan oleh kepolisian di Poso di masa lalu, dalam kasus di masa lalu. Kita harapkan masyarakat untuk membantu," kata Karo Penmas Polri, Brigjen Boy Rafli Amar, di Mabes Polri, Kamis (3/1).

"Waktu itu Santoso telibat perampokan dan pembunuhan seorang sopir truk yang memuat rokok. Namun saat itu dia tak dikenakan UU Penanggulangan Terorisme," ungkap Boy.

Santoso yang kini mengatasnamakan dirinya sebagai Komandan Mujahidin Indonesia Timur dan menyebut dirinya sebagai Abu Mus'ab Al-Zarqawi Al-Indunesi itu, memang bisa dikatakan licin bagai belut. Beberapa kali Densus 88/Antiteror berhasil menangkap anak buahnya, tapi lelaki yang menyatakan jika kelompoknya tidak ada kaitannya dengan Jamaah Anshoru Tauhid (JAT) yang didirikan oleh Abu Bakar Ba'asyir itu, selalu berhasil lolos.

Polri memang fokus untuk menyelesaikan teror di Poso. Kapolri Jenderal Timur Pradopo, bersama dengan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dan Kepala BIN Marciano Norman, telah menggelar kunjungan kerja ke Poso dan Palu pada Rabu (2/1) kemarin. Mereka menggelar serangkaian pertemuan dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat. Pertemuan itu untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang perlunya kerja sama terpadu antara masyarakat dengan pihak keamanan.

"Karena terbukti jika ancaman teror ini berasal dari pihak luar (bukan warga asli Poso), sehingga keterpaduan diperlukan sebagai daya cegah dan daya tangkal dari keinginan pihak eksternal itu yang menginginkan suasana teror," beber Boy.

Dikatakan Boy lagi, pihak eksternal itu juga terus mengajak dan memprovokasi warga dan pemuda di Poso, untuk bergabung dengan gerakan mereka seperti yang terjadi di masa lalu.

Untuk itu, Boy melanjutkan, Polri akan segera menyelenggarakan Operasi Kepolisian Terpadu bersama dengan TNI dan intelijen di Poso. Polri akan bertindak sebagai pemimpin operasi, sedangkan anggarannya akan didukung oleh masing-masing instansi tersebut.

"Jadi, terpadu itu lebih melibatkan sejumlah pihak, tidak hanya aspek penegakan hukum semata. Kita akan terus mencegah aksi-aksi teror di sana," kata Boy, yang menambahkan bahwa lima orang tersangka teror Poso yang telah dibawa ke Mabes Polri pekan lalu adalah pihak yang melakukan perbantuan penembakan Brimob di Poso.

Santoso sendiri, diketahui masih terus menebar teror. Yang terbaru, dia menulis pernyataan yang dimuat di laman blog Anshorut Tauhid Wassunnah Waljihad dan ditulis pada Senin, 24 Desember 2012 lalu. Pernyataan yang sama juga dimuat di Kikavtai2 yang merupakan sebuah situs milik Kompi Kavaleri Pengintai 2, Kostrad, TNI AD, yang di-hack (diretas).

Untuk diketahui, ini adalah pernyataan kedua yang diduga kuat dibuat oleh Santoso. Pernyataan pertamanya, yang berisi tantangan kepada Densus 88/Antiteror, dibuat pada Rabu, 17 Oktober 2012 lalu, serta dimuat di beberapa situs jihad dan situs pemerintah yang juga diretas.

Terlepas dari benar atau tidaknya Santoso yang membuat pernyataan itu (karena dia belum tertangkap), namun faktanya, memang ada kesesuaian antara pernyataan pertamanya yang berisi tantangan kepada Densus 88/Antiteror, dengan terbunuhnya enam orang anggota polisi di Poso, Sulteng, pada Oktober dan Desember 2012.


Penulis: /SES