Lontarkan "Sama-Sama Menikmati", Daming Sunusi Sempat Dimarahi Keluarga

Lontarkan
Calon hakim agung M Daming Sunusi (kiri) berbincang dengan anak bungsunya, Setiawan Adiputra di Jakarta, Senin (21/1). ( Foto: SP/Asni Ovier DP )
/ FMB Senin, 21 Januari 2013 | 18:04 WIB
"Ucapan saya itu terkait revisi KUHP, karena dalam KUHP ancaman hukuman maksimal adalah 12 tahun".

Belakangan ramai diberitakan tentang calon hakim agung, Daming Sunusi yang dianggap telah melecehakan korban perkosaan saat dirinya melakukan uji kepatutan sebagai hakim agung.

Daming mengaku, ketika pemberitaan ramai, dirinya dimarahi keluarga, terutama istri dan anak-anak perempuannya. Padahal, atas inisiatif sendiri, sehari setelah uji kepatutan dan kelayakan di DPR, yakni pada 15 Januari lalu, dia langsung mendatangi Komisi Yudisial (KY).

Menurut Daming, kedatangannya itu untuk mengklarifikasi pernyataannya dan siap untuk memberikan keterangan. Dia diterima Wakil Ketua KY Imam Anshori Saleh dan Ketua Bidang Perekrutan Hakim KY Taufiqurrahman Syahuri.

“Makanya, sidang KY kali ini disebut-sebut sebagai rekor tercepat, karena saya sudah berinisiatif memberikan penjelasan dulu,” ujarnya.

Dijelaskan, saat uji kepatutan dan kelayakan, dia mendapatkan pertanyaan dari seorang anggota Komisi III dari Fraksi PAN soal hukuman mati dalam kasus korupsi, narkotika, dan perkosaan. Kalau korupsi dan narkotika, Daming dengan tegas setuju pemberlakuan hukuman mati.

Tapi, untuk kasus perkosaan, ujarnya, harus dilihat kasus per kasus.

“Lalu, muncul kata-kata ‘sama-sama menikmati'. Keadaan menjadi riuh, sehingga saya tidak dapat melanjutkan keterangan saya. Ucapan saya itu terkait revisi KUHP, karena dalam KUHP ancaman hukuman maksimal adalah 12 tahun, sehingga perlu dipikirkan lagi soal penerapan hukuman mati,” ujar Ketua Pengadilan Tinggi Banjarmasin itu.

Ternyata, kata Daming, masyarakat menerima informasi itu tidak seperti yang dimaksudkannya. Dia tidak sempat menjelaskan maksud kalimatnya itu, karena anggota DPR yang bertanya sudah berganti fraksi dan topik yang dibahas pun sudah berlainan.
CLOSE