Profil akun twitter Farhat Abbas
Mengaku mengambil jalur hukum karena mendapat desakan dari anggota PITI.

Jakarta -
Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Ramdhan Effendi alias Anton Medan, menjalani pemeriksaan terkait kicauan Farhat Abbas yang diduga berisikan pernyataan kebencian dan permusuhan terhadap etnis Tionghoa.

"Tadi pemeriksaan BAP (Berita Acara Pemeriksaan) awal untuk gelar perkara. Saya jelaskan apa adanya," ujar Anton Medan, usai pemeriksaan di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Senin (28/1).

Dikatakan Anton, kendati secara pribadi ia memaafkan Farhat, namun proses hukum tetap berjalan.

"Beliau membuat pernyataan permusuhan dan kebencian. Saya dapat desakan dari pengurus PITI wilayah dan daerah dan saya ambil jalan tengah dengan mengambil proses hukum. Saya pribadi memaaafkan, tapi hukum tetap diproses. Ini bukan kemauan saya pribadi," ungkapnya.

Anton berharap, kasus ini bisa menjadi pelajaran buat masyarakat Indonesia. "Saya sama Farhat tak ada apa-apa. Semoga, kasus ini bisa dijadikan sebagai pelajaran seluruh warga negara Indonesia," tambahnya.

Anton pun mengatakan, pihaknya juga meminta Kementerian Hukum dan HAM (Kemkumham) mencabut izin praktik hukum dan pengacara Farhat.

"Sudah membuat surat agar SK praktik hukum dan pengacara Farhat dicabut. Karena, ia tak memiliki serta mengerti empat pilar kebangsaan, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945, Pancasila, dan NKRI. Selasa minggu kemarin, sudah dikirim ke Kemkumham," jelasnya.

Sementara itu, Kuasa Hukum PITI Gatot G menyampaikan, penyidik sudah memberikan sekitar sembilan pertanyaan berkaitan isi Twitter Farhat.

"Ada sekitar sembilan pertanyaan, berkaitan dengan bunyi Twitter Farhat. Informasi dapat dari mana serta kerugian moril dan materil. Bukti (pernyataan) di Twitter juga dilampirkan," tandasnya.

Anton Medan mulai menjalani pemeriksaan di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, sekitar pukul 10.00 hingga pukul 11.30.

Sebelumnya, Anton Medan mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya untuk membuat laporan, terkait kicauan Farhat Abbas yang diduga berisikan pernyataan kebencian dan permusuhan terhadap etnis Tionghoa.

Ia membuat laporan dengan nomor TBL/86/I/2013/PMJ/Ditreskrimsus. Isi sangkaan Pasal 4 huruf b angka 1 UU No 40 tahun 2004 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, kemudian pasal 28 ayat 1 jo pasal 45 ayat 2 UU No 11 tahun 2008 tentang ITE.

Selain Anton, Ramdan Alamsyah juga melaporkan kicauan Farhat ke SPK Polda Metro Jaya, dengan nomor TBL/82/I/2013/PMJ/Ditkrimsus. Dalam laporan itu, Farhat diduga melakukan penghinaan terhadap suku dan golongan serta melanggar Pasal 28 ayat 2, UU ITE, juncto Pasal 4, juncto Pasal 16, UU No.40 tahun 2008.

Berikut Tweet Farhat @farhatbbaslaw pada Rabu 9 Januari 2013 :

“Ahok sana sini protes plat pribadi B 2 DKI dijual polisi ke orang umum katanya! Dasar Ahok plat aja diributin! Apapun plat nya tetap C***!”

Penulis: /WEB