Sejumlah pesepakbola yang tergabung dalam timnas Indonesia mengikuti latihan perdana menjelang laga persahabatan melawan Belanda di Senayan, Jakarta, Selasa (4/6).

Jakarta - Pencinta sepakbola di Tanah Air saat ini tengah dimanjakan dengan suguhan pertandingan si kulit bundar kelas dunia. Kedatangan Arsenal, Liverpool, dan Chelsea semakin membangkitkan animo masyarakat Indonesia terhadap sepakbola. Ketiga tim raksasa asal Inggris itu pun dinilai bisa memberikan manfaat terhadap perkembangan sepakbola nasional.

Setelah pertama kali menginjakan kaki pada 1983, Arsenal kembali menyambangi Indonesia pada 2013 ini.
"The Gunners" melakoni partai uji coba melawan Tim Nasional (Timnas) Indonesia pada 14 Juli lalu.

Sepekan berselang, giliran Liverpool yang akan menjajal kekuatan tim "Garuda" pada Sabtu (20/7) ini. Sedangkan, Chelsea menjadi penutup rangkaian pesta sepakbola nasional itu dengan menjalani laga eksebisi menghadapi timnas pada 25 Juli mendatang.

Pengamat sepakbola Bambang Nurdiansyah mengatakan kedatangan tim-tim luar negeri bisa memberikan dampak terhadap jam terbang para pemain nasional. Selain itu, mereka juga tidak akan lagi merasakan demam ketika bertanding menghadapi tim-tim besar.

"Untuk usia muda, kedatangan Arsenal, Liverpool, dan Chelsea akan menambah gairah mereka untuk terus belajar bermain bola dengan teknik yang benar. Karena mereka kan selalu ingin meniru pemain idola mereka, sehingga talenta-telanta muda akan terus bermunculan," ujar Banur, sapaan Bambang, ketika dihubungi Suara Pembaruan di Jakarta, Jumat (19/7) malam.

Namun Bambang juga mengkritisi persiapan serta penampilan timnas Indonesia. Meskipun hanya bertajuk laga eksebisi, PSSI seharusnya bisa mempersiapkan tim lebih serius. Pasalnya, lanjut dia, dengan kekalahan telak 0-7 atas Arsenal, akan berdampak buruk kepada mental para pemain.

Selain berdampak positif, kedatangan tim-tim luar negeri ke Indonesia juga kerap menimbulkan tudingan tidak sedap. Mereka dinilai hanya memanfaatkan pasar sepakbola Indonesia yang besar untuk mengeruk keuntungan. Menanggapi hal itu, Bambang menilai hal itu tidak sepenuhnya benar.

"Kalau dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan saya rasa tidak. Karena sepakbola sekarang selalu berbicara soal bisnis. Tapi, tentunya bisnis dan prestasi harus sejalan. Masalahnya, di sini kan hanya bisnis yang berjalan, tapi prestasi masih kurang," tegasnya.

Suara Pembaruan

Penulis: H-16/WBP

Sumber:Suara Pembaruan