Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM), Kemperin, Euis Saedah

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemperin) mendorong terbentuknya koperasi-koperasi industri yang dapat menyediakan bahan baku dan bahan penolong untuk kebutuhan Industri Kecil dan Menengah (IKM) untuk mengatasi harga dan pasokan yang seringkali fluktuatif di pasar.

Oleh karena itu Kemperin selalu berupaya memfasilitasi dan mendorong IKM pangan dengan berbagai kegiatan pembinaan serta memfasilitasi kemitraan antara IKM dengan produsen bahan baku dan bahan penunjang sehingga tercapai efisiensi produksi yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing IKM dalam negeri.

Demikian dikatakan Dirjen IKM Kemenperin, Euis Saedah, dalam sambutannya pada Penandatangan Nota Kesepahaman Antara Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) dengan Koperasi Mitra Optima UKM DKI Jakarta, Kamis (13/6).

Menurutnya, saat ini saat ini daya saing IKM pangan masih rendah apalagi menghadapi perdagangan bebas ASEAN pada 2015 dimana semua pihak berharap dapat bertahan di pasar dalam negeri serta mampu bersaing dengan negara lain. Dengan adanya nota kesepakatan tersebut, Euis berharap dapat memberikan jaminan pasokan gula kristal rafinasi kepada industri kecil menengah olahan pangan melalui komitmen para anggota AGRI dalam kemitraannya dengan para produsen kecil menengah olahan pangan. “Kami berharap IKM mendapatkan manfaat dari kesepahaman ini yang nantinya akan terus mendorong perkembangan usaha industrinya. Kami bekerjasama dengan Dinas KUKM dan Perdagangan setempat akan terus memantau dan memastikan maksud dan tujuan yang telah disepakati dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.

Lebih lanjut Euis menjelaskan, IKM berperan penting dalam tatanan perekonomian nasional mengingat jumlah unit usaha IKM yang mencapai 90% dari total industri nasional. Dari sisi karakteristik ekonomi sosial di Indonesia, IKM merupakan suatu kekuatan untuk mewujudkan pembangunan di Indonesia yang tersebar di seluruh wilayah dengan berbagai keragaman jenis dan produknya.

Ditambahkannya, jumlah IKM pangan hampir mendominasi jumlah total IKM di Indonesia. Sebanyak 1,5 juta unit dari 3,8 juta total unit IKM nasional merupakan industri pangan olahan. Selain itu, pertumbuhan industri pangan relatif tinggi, rata-rata 16% di atas pertumbuhan IKM pangan yang hanya sekitar 10%. Pada saat ini industri pangan merupakan kebutuhan primer yang diharapkan akan dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri. Namun di sisi lain, dalam menjalankan usahanya IKM pangan dihadapkan oleh berbagai tantangan dan kendala antara lain keterbatasan teknologi, SDM, fluktuasi harga bahan baku dan penolong, serta keterbatasan modal. Karenanya, Ditjen IKM terus berupaya menfasilitasi berbagai kegiatan pembinaan dan kemitraan agar tercapai peningkatan daya saing.

Suara Pembaruan

Penulis: E-8/AF

Sumber:Suara Pembaruan