Hilirisasi Produk Karet Perlu Didorong

Hilirisasi Produk Karet Perlu Didorong
Ari Supriyanti Rikin Rabu, 1 Oktober 2014 | 01:44 WIB

Jakarta - Indonesia perlu mendorong hilirisasi karet agar potensi karet Indonesia bisa diolah menjadi barang bernilai tambah, ketimbang karet mentah terus diekspor.

Karet merupakan salah satu komoditas hasil perkebunan yaang mempunyai peran cukup strategis dalam kegiatan perekonomian Indonesia. Sekitar 86 persen produksi karet alam Indonesia diekspor dan hanya sebagian kecil dikonsumsi di dalam negeri.

Oleh karena itulah Dewan Karet Indonesia melakukan nota kesepakatan (MoU) dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terkait upaya mendorong hilirisasi karet lewat sentuhan teknologi.

Plt Deputi Teknologi Informasi Energi dan Material BPPT Jumain Appe mengatakan hampir industri industri terkait karet dikuasai negara lain. Ke depan melalui diskusi mendalam terkait pemanfaatan karet untuk otomotif atau produk lainnya.

"Perlu ada upaya meningkatkan nilai tambah karet dan pengembangan industri karet," katanya di Jakarta, Selasa (30/9).

Ketua Dewan Karet Indonesia A Aziz Pane mengaku gerah menangani karet yang potensinya besar di Indonesia tetapi tidak ada yang berguna. Produktivitas karet bisa mencapai 3 juta ton per tahun namun hanya 450.000 ton yang digunakan di dalam negeri, sisanya diekspor untuk industri ban di luar negeri.

Di banding negara lain, Malaysia misalnya menjadi produsen tunggal sarung tangan karet di dunia medis dan Thailand karet untuk celana dalam serta menjadi produsen tunggal di seluruh dunia.

"Kita ingin mencari produk andalan karet kita penghasil karet nomor dua terbesar di dunia setelah Thailand," ucapnya.

Dalam kerja sama ini Dewan Karet Indonesia mengaku ada beberapa potensi seperti pretreatment ban vulkanisir, mainan karet bagi anak autis dan mainan anak berbahan karet. 

Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE