Kemperin Dukung Pabrik Semen di Rembang Tetap Berjalan

Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk, Rizkan Chandra, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf saat pembukaan acara Semen Indonesia Award on Innovation (SMI-AI) 2016 di Gresik, Senin, 9 Januari 2017. (Amrozi Amenan/Investor Daily)

Oleh: Amrozi Amenan / FER | Senin, 9 Januari 2017 | 18:40 WIB

Gresik - Kementerian Perindustrian (Kemperin) terus memberikan dukungan bagi Semen Indonesia (SI) terkait dengan investasi pabrik barunya di Rembang, Jawa Tengah. Sehingga, diharapkan pabrik baru itu sudah bisa berproduksi pertengahan tahun ini.

"Kementerian Perindustrian akan terus mendorong agar investasi (pabrik baru) itu harus jalan terus. Kita berharap pertengahan tahun ini sudah beroperasi. Sekarang pun sebenarnya sudah bisa berproduksi dengan resource dari tempat lain," kata Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto, usai membuka acara Semen Indonesia Award on Innovation (SMI-AI) 2016 di Gresik, Senin (9/1).

Airlangga menjelaskan, yang dipersoalkan terkait dengan pabrik baru Semen Indonesia di Rembang adalah masalah perizinan. Dirinya meyakini, jika masalah perizinan sudah diperbaiki tidak akan ada persoalan lagi.

"Sebetulnya, secara teknis perizinan itu sudan di tangan. Kalau masalah Amdal sudah diperbaiki, tentunya sudah bisa beroperasi," terang Airlangga Hartarto.

Kedepan, lanjutnya, Kemperin akan mengurangi ekspansi di industri semen yang ada sekarang. Pengurangan ini dilakukan sampai terjadi keseimbangan antara suplai dan demand di pasar semen dalam negeri.

"Jadi dikurangi sampai kapasitas tercapai 80 persen. Kita tidak melakukan moratorium," ungkapnya.

Airlangga menjelaskan, saat ini industri semen dalam negeri memiliki kapasitas sebesar 102 juta ton, sementara kebutuhan dalam negeri hanya sekitar 65 juta. Dengan demikian, dengan kapasitas yang ada sekarang kebutuhan semen dalam negeri bisa dipenuhi.

"Kapasitas sudah sedemikian naik sehingga yang perlu didorong sekarang adalah meningkat demand pasar terutama dari non infrastruktur. Diantaranya dengan mendorong investasi di industri untuk meningkatkan kegiatan perekonomian masayarakat," jelasnya.

Airlangga berharap, pengurangan ekspansi itu juga akan menjadikan suplai klinker dalam negeri bisa dipenuhi.

"Sehingga, dengan demikian dalam dua atau tiga tahun kedepan tidak ada lagi impor klinker," tambahnya.

 




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT