Pertamina Nilai Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Masih Wajar

Ilustrasi SPBU Pertamina (JG Photo)

Oleh: Euis Rita Hartati / ERH | Senin, 9 Januari 2017 | 19:47 WIB

Jakarta – Pertamina menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi atau biasa disebut Pertamax Series, pada awal tahun ini masih dalam taraf yang wajar, mengikuti tren harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Pertamax series itu sama dengan BBM yang dijual di SPBU Shell, Total, dan AKR. Harganya memang fluktuatif, bisa berubah tiap 2 minggu mengikuti harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," kata Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Ahmad Bambang di Jakarta, Senin (9/1).

Menurut Ahmad Bambang, perubahan harga BBM umum adalah hal yang biasa saja. Harga BBM di SPBU Shell, Total, dan AKR pun berubah-ubah. "Apakah harga BBM Shell, Total, dan AKR juga ditetapkan oleh menteri?" tanya dia.
Dijelaskan, mekanisme penetapan harga Pertamax series berbeda dengan Solar dan Premium. Hal ini diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 (Perpres 191/2014).

Dikatakan, dalam pasal 15 ayat 2 Perpres 191/2014 disebutkan, untuk Harga Indeks Pasar (HIP) BBM umum ditetapkan oleh Badan Usaha dan dilaporkan pada Menteri ESDM. Artinya, Pertamina sebagai badan usaha cukup melaporkan saja harga Pertalite, Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamax Turbo pada Menteri ESDM. "Namun Pertamina tidak bisa mengambil untung setinggi langit karena Peraturan Menteri ESDM Nomor 39 Tahun 2014 membatasi margin untuk BBM umum sebesar 5-10%," tukasnya.

Sebelumnya, pengamat Kebijakan Energi, Sofyano Zakaria menilai, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi seperti Pertamax, Turbo, Pertalite, Dex dan Dexlite yang dijual Pertamina atau badan usaha lain seperti Shell, Total dan AKR disebabkan naiknya harga minyak dunia sejak bulan lalu.

"Harga BBM yang naik hanya yang non subsidi (harga keekonomian) yang dijual oleh Pertamina dan badan usaha lain. Harga BBM ini memang mengikuti harga pasar yang pada bulan lalu rata-rata berada di angka US$ 44-47 per barel, saat ini naik US$ 52-55 per barel sehingga tentu saja harga produk juga ikut naik," kata dia.

Menurut Sofyano, kenaikan harga jual BBM keekonomian (non subsidi) juga terjadi di seluruh dunia, kecuali pada negara-negara yang memang masih mensubsidi BBM-nya. "Dan ini sama seperti yang terjadi di Indonesia," ucapnya.
"Disamping karena naiknya harga minyak dunia, harga BBM non subsidi/keekonomian juga terpengaruh dengan kurs US Dollar," tambah Sofyano.

Masih menurut dia, kenaikan MOPS selama 2 minggu dari 15 - 30 Desember rata-rata sebesar 6.5%, sehingga jika mengacu pada MOPS maka seharusnya kenaikan harga minimal Rp 500 per liter. "Tapi ternyata Pertamina hanya menaikkan Rp 300 per liter atau sebesar 4% saja," tukasya.

Sofyano juga mengaku heran jika kenaikan harga BBM non subsidi juga dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menaikkan harga bahan bakar pokok. "Karena harga Jual BBM non subsidi Solar tidak naik, maka kenaikan harga BBM Non subsidi seharusnya tidak berpengaruh terhadap harga bahan-bahan pokok," pungkasnya.

Sementara berdasarkan data dari www.globalpetrolprices.com, harga bensin RON 92 di Malaysia dan Myanmar lebih murah dari Indonesia. Tapi di Thailand, Singapura, Filipina, Vietnam, Kamboja, dan Laos harga bensin RON 92 lebih dari Rp 8.050/liter.

Berikut harga bensin RON 92 di negara-negara tetangga Indonesia di Asia Tenggara, per 2 Januari 2017 yang dikutip dari www.globalpetrolprices.com hari ini:

Indonesia US$ 0,60/liter (Rp 8.050/liter)
Malaysia US$ 0,47/liter (Rp 6.337/liter)
Thailand US$ 0,97/liter (Rp 13.080/liter)
Singapura US$ 1,37/liter (Rp 18.474/liter)
Filipina US$ 0,88/liter (Rp 11.866/liter)
Myanmar US$ 0,57/liter (Rp 7.686/liter)
Vietnam US$ 0,82/liter (Rp 11.057/liter)
Kamboja US$ 0,84/liter (Rp 11.327/liter)
Laos US$ 1,09/liter (Rp 14.698/liter




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT