Konsumen mengisi bahan bakar miyak jenis Pertamax Plus di SPBU khusus Pertamax, Pondok Indah, Jakarta Selatan.FOTO: Reno Esnir/ANTARA

Jakarta - Managing Director Nielsen Catherine Eddy mengatakan, perubahan perilaku berbelanja konsumen di Indonesia perlu diwaspadai jika harga bahan bakar minyak (BBM) naik.

Eddy mengatakan, kenaikan harga BBM akan memicu lonjakan biaya transportasi konsumen dan kenaikan harga-harga produk konsumsi. Akibatnya, lanjut dia, konsumen akan mengubah perilaku belanjanya.

"Konsumen kelas menengah menghabiskan 20 persen pendapatan untuk biaya transportasi. Bayangkan kalau biaya itu bertambah dua kali lipat.

Belum lagi, menurut Nielsen, kenaikan harga BBM akan memacu harga-harga barang naik. Mengantisipasi ini, biasanya konsumen tetap menggunakan merek yang sama, namun membeli dalam kemasan sachet demi mengurangi penggunaan dan pengeluaran.

"Misalnya, krim wajah atau susu anak. Atau, bisa saja beralih ke merek yang lebih murah. Misalnya, minyak goreng atau kopi," kata Eddy saat jumpa pers pemaparan hasil Global Consumer Confidence Index Nielsen di Jakarta, Rabu (6/2).

Dalam pemaparannya, Eddy menuturkan, konsumen di Indonesia mulai mengubah perilaku konsumsinya. Sebanyak 81 persen konsumen menyatakan menahan pengeluaran rumah tangga dengan menunda penggunaan atau membeli produk berteknologi terkini.

Cara lain adalah memangkas anggaran untuk hiburan di luar rumah atau mengurangi belanja pakaian baru. Dia menambahkan, konsumen lebih memilih untuk menabung dana cadangan, berinvestasi dan  menyimpan dana hari tua.

"Dari survey ini ditemukan, 17 persen responden menganggap kondisi ekonomi di Indonesia sebagai fokus perhatian utama. Disusul, kondisi pekerjaan dengan 12 persen, dana kesejahteraan orang tua dengan 7 persen. Dan, 7 persen menganggap kenaikan harga BBM sebagai fokus utama," kata Eddy.

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan, kenaikan harga BBM tidak akan mengganggu belanja masyarakat.

"Dari sisi produk, kenaikan harga BBM tidak memacu kenaikan harga barang. Karena, produsen sudah menggunakan BBM dengan harga industri. Dari sisi konsumen, juga tidak akan menekan belanja. Memangnya, masyarakat kita mengkonsumsi BBM berapa banyak? Kalau menurut saya, tidak ada hubungannya dengan konsumsi masyarakat," kata Tutum.

Dia mengatakan, pemerintah lebih baik menaikkan harga BBM. Dana subsidi bisa digunakan membangun infrastruktur.

"Untuk menolong kelas bawah, pemerintah subsidi saja ongkos angkutan umum. Di sisi lain, jaminan pasokan BBM juga harus ada dan pasti. Jadi, lebih mahal sedikit, pasokan dan infrastruktur lancar. Lalu, jalankan program jaminan kesehatan, dorong pendidikan. Itu saja dilakukan," ujar Tutum.

Investor Daily

Penulis: /WBP

Sumber:Investor Daily