Anak Usaha Adhi Karya Bidik IPO Hingga Rp 1 Triliun

Anak Usaha Adhi Karya Bidik IPO Hingga Rp 1 Triliun
Direktur Utama PT Adhi Persada Properti, Ipuk Nimpuno (kedua dari kiri) bersama direktur APP M. Ziad Choirin (kiri), Direktur APP M. Aprindy dan Seketaris perusahaan Syahrial Firdausi (kanan) dalam kesempatan silaturahmi perseroan dengan insan media di Jakarta. ( Foto: BeritaSatu Photo/MI - UTHAN AR / BeritaSatu Photo/MI - UTHAN AR )
Muhammad Rausyan Fikry/Antonia Timmerman / FMB Senin, 27 April 2015 | 06:14 WIB

Jakarta – PT Adhi Persada Properti (APP) dan PT Adhi Persada Realty (APR), anak usaha PT Adhi Karya Tbk (ADHI), membidik dana penawaran umum perdana ( initial public offering/IPO) saham sebesar Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun. Sebelum IPO, Adhi Karya akan menggabungkan usaha (merger) APP dan APR terlebih dulu, guna memperkuat penggalangan dana.

Direktur Utama APP Ipuk Nimpuno mengungkapkan, proses merger diharapkan rampung pada Juni 2015. Saat ini, pihaknya sedang dalam tahap penunjukkan lembaga penunjang. Adapun dana IPO akan digunakan untuk pengembangan usaha.

“Nama baru setelah penggabungan usaha belum diputuskan. Jika lancar, penggabungan bisa selesai pada pertengahan tahun ini. Adapun IPO diharapkan terealisasi pada akhir 2015 atau awal 2016,” kata Ipuk kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Direktur Keuangan APP Choirin menambahkan, pihaknya menargetkan pendapatan sebesar Rp 1,5 triliun atau naik 33,9 persen dibandingkan Rp 1,1 triliun sebelum merger. Sementara itu, laba bersih diperkirakan mencapai Rp 300 miliar atau melonjak 10 kali lipat dibandingkan Rp 26 miliar sebelum penggabungan usaha.

“Total aset juga akan bertambah dari Rp 3 triliun menjadi Rp 3,5 triliun,” kata Choirin, pada kesempatan yang sama.

Saat ini, APP sedang menggarap sejumlah proyek properti yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Jogja, dan Jatinangor. Proyek-proyek tersebut terdiri atas apartemen, kondotel, perkantoran, dan kawasan terpadu (mixed use).

Selama 2014, Adhi Karya membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 8,6 triliun atau turun 11,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya senilai Rp 9,7 triliun. Sementara itu, laba bersih tergerus 20,1 persen menjadi Rp 324 miliar dibandingkan 2013 sebesar Rp 405,9 miliar.Adapun return on assets (ROA) Adhi Karya tercatat sebesar 5,6 persen dan return on equity (ROE) sebesar 33,9 persen.

Pada perdagangan Jumat (24/4), harga ADHI ditutup pada level Rp 2.975 atau turun 65 poin (2,14 persen) dari hari sebelumnya. Jumlah ini mencerminkan price to earning ratio (PER) sebesar 16,54 kali.

“Hingga akhir tahun, harga ADHI ditargetkan berada di level Rp 4.000 atau naik 34,4 persen dari posisi saat ini,” ungkap analis Indosurya Securities William Surya Wijaya kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

William mengatakan, kenaikan harga saham ADHI akan ditopang oleh pertumbuhan industri konstruksi sebagai penyokong pembangunan infrastruktur. Apalagi, Adhi Karya memiliki proyek-proyek besar seperti light rapid transit (LRT), yang ditargetkan segera dimulai tahun ini.

Di sisi lain, William menambahkan, rencana penawaran umum perdana saham anak usaha Adhi Karya juga menjadi salah satu IPO yang ditunggu-tunggu investor. APP dan APR yang bergerak di bidang properti diperkirakan memiliki prospek baik di masa depan, seiring dengan kebutuhan akan tempat tinggal yang masih tinggi.

“Sektor ini masih menjanjikan di masa depan. Jika sektor properti baik, industri konstruksi otomatis akan ikut terangkat lebih tinggi lagi,” ujar William.

Waskita Karya
Sementara itu, BUMN lainnya, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) akan menyuntik modal kepada tiga anak usahanya di bidang properti, jalan tol, dan beton pracetak. Nilai penambahan modal itu mencapai Rp 4,3 triliun.

Direktur Keuangan Waskita Karya Tunggul Rajagukguk mengatakan, dana penambahan modal akan diperoleh dari aksi rights issue.PT Waskita Precast akan mendapat sebesar Rp 300 miliar, PT Waskita Realty sebesar Rp 1 trililun dan PT Waskita Toll Road sebesar Rp 2 -3 triliun.

“Namun, sebagian besar dana rights issue untuk menambah modal Waskita Toll Road. Kami butuh banyak dana untuk ekspansi di sektor itu,” jelas Tunggul di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia mengungkapkan, ekspansi perseroan di sektor jalan tol tahun ini sangat besar. Perseroan membutuhkan dana sebesar Rp 23 triliun untuk mengembangkan proyeknya di sektor jalan tol dan transmisi.

Di sektor properti, perseroan membutuhkan dana hingga Rp 9,7 triliun untuk pengembangan enam proyek. Investasi terbesar akan dikucurkan untuk proyek kawasan terpadu di Darmo, Surabaya, senilai Rp 5 triliun.

Perseroan juga akan membangun Apartemen Brooklyn di Alam Sutera senilai Rp 1,2 triliun, apartemen di Medan senilai Rp 1,2 triliun, dan apartemen di Serpong Rp 1,5 triliun. Adapun dua proyek properti baru di BSD dan Bali akan menelan biaya masing-masing Rp 600 miliar dan Rp 100 miliar.

Bagi Dividen
Pada saat yang sama, pemegang saham Waskita menyepakati pembagian dividen tunai sebesar Rp 11 per saham atau setara Rp 100,3 miliar. Dividen tersebut mewakili 20 persen laba bersih perseroan tahun lalu sebesar Rp 501 miliar.

Tunggul menuturkan, nilai pembagian dividen tersebut disetujui oleh pemegang saham perseroan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). "Pembagian dividen kepada pemegang saham tidak akan melebihi waktu dua bulan setelah disepakati," kata Tunggul.

Dia menambahkan, besaran dividen yang sudah ditetapkan manajemen terbilang wajar, karena perseroan perlu melakukan ekspansi usaha. Sisa perolehan laba bersih perseroan akan dibukukan sebagai dana cadangan dan laba ditahan.

"Kami akan terus berinvestasi. Kebutuhan dana kita banyak karena Waskita bakal mempercepat proyek - proyek infrastruktur di Tanah Air," tegasnya.

Sepanjang 2014, Waskita berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 10,2 triliun atau tumbuh 6,2 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan laba bersih perseroan naik sebesar 36,1 persen jika dibanding tahun sebelumnya menjadi sebesar Rp 501 miliar.

Tahun lalu, perseroan juga mencatat total liabilitas sebesar Rp 8,7 triliun atau naik 6,5 persen dibandingkan 2013 senilai Rp 8,1 triliun. Total ekuitas sepanjang 2014 yaknni sebesar Rp 1, 7 triliun atau tumbuh 13,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya Rp 1,5 triliun. Dengan demikian, debt to equity ratio (DER) perseroan tercatat sebesar 4,9 kali.

Sepanjang 2014, Waskita berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp 10,2 triliun, meningkat 6,2 persen dari perolehan tahun sebelumnya sebesar Rp 9,6 triliun. Sedangkan laba bersih perseroan meningkatt sebsar 36,2 persen menjadi sebesar Rp 501,5 miliar dari sebelumnya Rp 368 miliar.

Sementara itu, berdasarkan laporan keuangan perseroan tahun lalu, ROA Waskita sebesar 3,9 persen dan ROE sebesar 17,5 persen. Sementara itu pada perdagangan saham Jumat (25/4) harga saham Waskita ditutup pada level Rp 1.785, turun 0,28 persen atau sebesar Rp 5 dari perdagangan sehari sebelumnya. Harga tersebut mencerminkan PER saham Waskita berada padal level 34,5 kali.

 

Sumber: Investor Daily