Shale Oil, Berkah atau Kutukan?

Shale Oil, Berkah atau Kutukan?
Hasan Zein Mahmud, Tim Ekselensi Learning Center, Pengajar pada Kwik Kian Gie School of Business (Sumber: blj.co.id)
/ GOR Selasa, 16 Mei 2017 | 08:14 WIB

“The natural resources of the world do not belong to any person, organization, collective, or so-called nation.” (Bryant McGill)

Menyusul harga minyak bumi yang anjlok beberapa hari sebelumnya, selama dua hari, 8 dan 9 Mei harga batubara (thermal coal) turun hampir 7%. Di pasar Newcastle, pada Senin (8/5/2017) harga batu bara untuk pengiriman Mei anjlok 4,87%.

Setelah mengalami pemulihan tipis pada hari Rabu (10/5), pada hari perdagangan berikutnya, Kamis, harga batu bara kembali terkoreksi. Kontrak penyerahan Januari 2018, kontrak teraktif di bursa Rotterdam, ditutup melemah 1,25% atau 0,85 poin ke US$ 67,40/ metrik ton.

Akibatnya, harga saham-saham batubara di Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut berguguran. Harga saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) selama seminggu yang lalu (hingga penutupan Jumat, 12/5) terkoreksi 13,67%.

Selama periode yang sama, harga saham PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk (PTBA) turun 7,58%, saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) turun 8,36%, saham PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) turun 8,74%, dan saham PT Indika Energy Tbk turun 24,44%. Tidak hanya itu, rata-rata harga saham sektor pertambangan yang berjumlah 45 perusahaan di BEI tergerus lebih dari 2%.

Padahal selama kuartal pertama 2017, sector pertambangan berkibar sebagai sektor yang mencatat laba paling kinclong di BEI, dengan kenaikan kumulatif sebesar 234% vs laba kuartal I-2016.

Lalu, ketika Rabu (10/5) malam, Bloomberg memberitakan harga minyak (light crude) naik 3,2% ke US$ 47,33 per barrel, harga batu bara naik dengan persentase yang sama. Kenaikan harga minyak itu sendiri, menurut analisa Bloomberg, didorong oleh pernyataan Irak dan Aljazair yang berkomitmen mengikuti langkah Saudi Arabia untuk melanjutkan pengurangan pasok, Juni mendatang.

Selain itu, laporan The US Energy Information Administration mengumumkan cadangan minyak AS menurun sebesar 5,2 juta barrels selama minggu lalu. Walaupun kenaikan kembali harga minyak dan batu bara cukup signifikan, namun indeks sektor pertambangan di BEI bergerak flat, dan ditutup pada 1.350,6, naik 0,27% Jumat 12 Mei lalu.

Harga minyak yang tinggi tampaknya akan tinggal sejarah. Berkembangnya teknologi yang bisa menderas minyak dan gas sintetis dari bebatuan kerogen (shale oil), akan memberikan tekanan luar biasa pada industri minyak dan gas alam, bahkan juga produk energy lainnya, baik yang tak terbarukan maupun yang terbarukan.

Minyak dan gas yang dideras dari bebatuan karogen itu bisa langsung dipakai sebagai bahan bakar atau dimurnikan lebih lanjut untuk memisahkan sulfur dan nitrogen. Shale oil yang sudah mengalami refinari dapat menjadi substitusi sempurna bagi minyak dan gas alam. Bebatuan shale ini, menurut penelitian, tersebar di seluruh permukaan bumi, pada lapisan yang dangkal, dalam deposit yang luar biasa besar.

Para pakar memperkirakan deposit shale oil di seluruh dunia mencapai 2,8 sampai 3,3 triliun barrels (Wikipedia). Amerika Serikat memiliki wilayah paling banyak, diperkirakan mencapai 1,5 sampai 2,6 triliun barrels (opcit), cukup untuk kebutuhan 100 tahun.

Konon shale oil ditemukan sebelum minyak dan gas alam dieksplorasi manusia. Ada yang mengatakan bahwa shale oil ditemukan oleh orang Arab lebih 1.000 tahun lalu. Namun dari dokumen, tercatat Swiss dan Austria telah menggunakannya pada awal abad ke 14.

Pada peralihan abad ke 17, shale oil digunakan untuk menerangi lampu jalanan di sepanjang kota Modena, Italia. Karena biaya produksi yang mahal, ketika pada abad pertengahan ditemukan minyak bumi yang berlimpah di Timur Tengah, produksi shale oil praktis berhenti, kecuali sedikit di Estonia dan Tiongkok Utara. Ketika harga minyak bumi meroket ke atas US$ 100 per barrel pada decade pertama abad ini, produksi shale oil bangkit kembali. Berbagai negara aktif melakuan produksi, seperti Amerika Serikat, Tiongkok dan Australia.

Ditemukannya teknologi drilling horizontal dan pemecahan batu secara hidrolik, telah memacu perkembangan produksi shale oil. Perkembangan teknologi berikutnya memungkinkan penyerapan minyak dan gas dari bebatuan shale, dilakukan dengan biaya produksi yang sangat murah, hingga di bawah US$ 30 per barrel.

Sarah Sjolin menuliskan laporannya di Market Watch kemarin (12 Mei): “After the initial slump in production following the 2014 oil crash, U.S. producers have slimmed down and are now competitive at prices in some cases below $30 a barrel. That’s lower than for many other oil producers, putting the U.S. and OPEC in a joint sweet spot to squeeze out other competitors in the current oil-price environment”. Amerika Serikat bukan saja menghentikan impor minyaknya, bahkan mulai mengekspor minyak buminya ke luar negeri. Tindakan yang tak pernah dilakukan AS sebelumnya.

The US Energy Information Administration mengumumkan, minggu lalu, produksi minyak AS kini solid pada 9,3 juta barrels per hari dan akan meningkat lagi dalam waktu dekat. Kalau fenomena ini berlanjut, maka pengurangan produksi oleh OPEC akan menjadi kebijakan bunuh diri, karena pengurangan produksi OPEC akan dengan mudah diisi oleh AS.

Pengurangan produksi OPEC akan menaikkan biaya produksi per barrel, sementara pada saat yang sama, peningkatan produksi di AS akan menurunkan biaya produksi.

“U.S. oil production is up sharply in 2017, incentivized by higher oil prices after more than 20 OPEC and non-OPEC members in November last year agreed to collectively cut output in a bid to balance the oil market. That’s allowed U.S. producers to increase market share, while at the same time benefiting from the rise in prices” (Market Watch op cit).

Jeffrey Currie, analis komoditas dari Goldman Sach menyebut fenomena shale oil sebagai “The New Oil Order”. Shale oil telah muncul sebagai perkembangan teknologi yang dominan di industry perminyakan, yang memberikan keunggulan dan keuntungan bagi negara yang menguasainya.

Di dalam negeri, kita masih tetap sibuk menyusun strategi menghadapi kemungkinan kenaikan harga minyak bumi, memberikan insentif terhadap produksi energi terbarukan dan mewajibkan produsen untuk meningkatan produksi biodiesel.

Tidak ada yang buruk dengan kebijakan kebijakan itu, tapi kita akan ketinggalan kereta bila tidak ikut mengembangkan teknologi yang akan mendikte arah perkembangan industri perminyakan pada masa yang akan datang.

Hanya perusahaan yang mampu memproduksi minyak bumi dengan biaya produksi di bawah US$ 50 per barrel yang masih punya peluang untuk survive.

Di bursa efek, akan terjadi reorientasi bisnis. Harga minyak yang terus menurun akan secara langsung memengaruhi sector pertambangan, juga sektor perkebunan. CPO misalnya, akan kembali memfokuskan perhatiannya untuk mencari marjin laba di food ketimbang di fuel.

Turunnya biaya energi akan memengaruhi pula perkembangan semua sektor ekonomi. Tidak ada kegiatan segmen ekonomi yang bisa bebas dari kebutuhan energi.

Hasan Zein Mahmud, Investor saham, Instruktur pada LP3M Investa



Sumber: Investor Daily
CLOSE