Livienne Russellia, Berpikir Positif di Saat Sulit

Livienne Russellia, Berpikir Positif di Saat Sulit
LIVIENNE RUSSELLIA, CEO PT Cakra Daya Makmur
Indah Handayani / Emralsyah / GOR Senin, 11 Desember 2017 | 17:28 WIB

Pahit getir dan pengalaman jatuh bangun telah dirasakan Livienne Russellia dalam membangun perusahaan. Livienne tidak pernah menyerah dan selalu berhasil bangkit dari keterpurukan.

Ketangguhan itu pula yang telah membawa PT Cakra Daya Makmur, perusahaan yang didirikannya, menjadi salah satu pemain besar dalam bisnis perawatan diri (personal care) dan kecantikan di Tanah Air.

Kunci ketangguhan Livienne ternyata ada pada cara pandangnya terhadap suatu persoalan. Ia selalu berupaya untuk tetap berpikir positif (positive thinking) pada saat-saat sulit.

Livienne telah membuktikan bahwa dengan berpikir positif di saat sulit, ia berhasil keluar dari berbagai macam persoalan. Bahkan dengan berpikir positif, situasi sulit dapat berbalik menjadi peluang untuk mencapai kesuksesan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

“Dalam setiap masalah atau situasi sulit, yang dibutuhkan pertama kali adalah positive thinking. Dengan berpikir positif, kita bisa berpikir jernih. Itu akan memicu kita untuk mencapai hasil yang lebih baik lagi,” kata Chief Executive Officer (CEO) PT Cakra Daya Makmur itu kepada wartawati Investor Daily Indah Handayani dan pewarta foto Emral Fidiansyah.

Prinsip positive thinking tidak datang tiba-tiba. Semuanya berawal ketika anak kedua Livienne lahir pada 2002. Saat itu, kondisi perekonomian keluarga Livienne memburuk. Sebagai istri dan ibu rumah tangga, Livienne pun ‘turun gunung’ memburu berbagai pekerjaan demi membantu penghasilan suami.

Pada situasi terpuruk itu, berbagai pekerjaan pernah dilakoni Livienne Russellia, dari agen asuransi dan komoditas, sampai menjual pakaian, celana jeans, sepatu, hingga produk kebutuhan rumah tangga lainnya. Bukan hanya itu, ia juga menjalani kerja sampingan sebagai penyuplai kain rajut, membuat sapu tangan, bahkan membuat kue kering.

Livienne Russellia juga menyuplai produk kacang di berbagai supermarket dan mal. Sejak itulah bisnisnya berkembang. Ia pun mulai memiliki jaringan bisnis yang mumpuni. Sayangnya, bisnis Livienne tak berlangsung awet karena produknya tidak tahan lama. Alhasil, banyak kerugian yang mesti ditanggungnya. Akibatnya, ia gulung tikar.

Namun itu tidak membuat Livienne patah semangat. Pelan namun pasti, di benak Livienne tumbuh prinsip positive thinking. Berbekal prinsip tersebut, ia selalu melihat peluang baru dari setiap kegagalannya.

Karena prinsip itu pula Livienne melihat adanya peluang produk perawatan diri dan kecantikan di Indonesia, terutama yang berasal dari luar negeri. Dengan jaringan yang dimilikinya, Livienne Russellia memulai bisnis produk kecantikan, meskipun masih bertaraf barang impor yang didatangkan dari Eropa, AS, Malaysia, Singapura, dan Australia.

Ketika bisnisnya mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan, Livienne kembali dirundung musibah. Bisnisnya kembali gulung tikar pada 2006 setelah pemerintah membatasi barang impor. Sekitar setahun, bisnis Livienne mengalami kevakuman.

Tapi saat itu, Livienne malah berpikir positif. Ia sadar bahwa keputusan pemerintah membatasi produk impor semata-mata bertujuan positif, yakni mendorong agar para pengusaha domestik lebih mementingkan produk nasional. Untuk itu, dia mulai menyiapkan diri untuk membangun manufaktur guna membuat produk perawatan diri dan kecantikan, dengan didukung sumber daya berkualitas dan ahli di bidangnya.

Pada 2007, bermodalkan pengetahuan yang mendalam tentang kebutuhan pasar Indonesia, lahirlah PT Cakra Daya Makmur, perusahaan manufakur penghasil produk perawatan diri dan kecantikan berbahan susu kambing pertama bertaraf dan berkualitas internasional.

Bisnis Cakra Daya Makmur terus berkembang hingga memiliki karyawan lebih dari 300 orang. Perusahaan itu juga telah merambah produk kosmetik. Selain dipasarkan di seluruh Indonesia, produk Cakra Daya Makmur telah diekspor ke mancanegara, di antaranya Korea Selatan, Singapura, negara-negara di Afrika, dan Amerika Serikat (AS).

Ada satu hal yang menjadi obesesi Livienne Russellia. “Saya ingin membawa perusahaan ini go public pada masa mendatang,” tutur ibu empat anak ini. Berikut petikan lengkapnya.

Bagaimana awal mula Anda membangun perusahaan?
Setelah menikah, saya hanya menjadi ibu rumah tangga. Tapi pada suatu saat, pada 2002, karena tuntutuan ekonomi, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja. Pekerjaan saya waktu itu masih serabutan, karena saya belum punya pengalaman di Jakarta. Saya baru datang dari Pontianak ke Jakarta untuk kuliah, lalu menikah.

Ketika keluarga kami mengalami masalah ekonomi, saya merasa harus keluar. Jadi, saya mengambil pekerjaan-pekerjaan kecil dan tidak memerlukan modal, sekaligus sambil mengurus anak. Pekerjaan yang saya ambil juga yang tidak banyak menyita waktu dan tidak memerlukan modal besar, seperti menjadi agen asuransi dan komoditi. Kebetulan saya orangnya nggak merasa gengsian dan selalu berpikir positif. Selama yang dikerjakan halal, akan saya lakukan.

Saya juga menjalani kerja sampingan sebagai penyuplai kain rajut, membuat sapu tangan, dan membuat kue kering. Setelah itu, saya mencoba untuk bisnis packaging atau pengemasan kacang dengan tampilan menarik. Bisnis ini berkembang pesat hingga saya berhasil memasukkannya ke berbagai supermarket dan mal.

Semuanya saya lakukan sendiri hingga akhirnya saya bisa mendistribusikannya secara nasional. Sejak itu, saya punya jaringan bisnis yang mumpuni. Saya juga belajar banyak dari bisnis ini, hingga kemampuan saya dalam bernegosiasi dan menghadapi orang terus meningkat. Sayangnya, usia kedaluwarsa kacang kemasan sangat singkat, sehingga saya mengalami banyak kerugian. Saya pun berhenti dari bisnis ini.

Pernah menyerah saat bangkrut?
Saya hampir tidak pernah berhenti, sebab saya orangnya nggak merasa gengsian dan selalu positive thinking. Saya selalu berupaya untuk melihat sisi positif atau peluang yang baik dalam berbisnis. Saya melihat adanya kebutuhan pasar Indonesia terhadap produk impor perawatan dan kecantikan.

Dengan jaringan yang saya miliki, akhirnya saya mulai mengimpor produk perawatan dan kecantikan berbahan susu kambing, mulai dari sabun, lotion, hingga berbagai produk personal care lainnya. Produknya pun saya datangkan dari Singapura, Australia, Eropa, dan Amerika.

Bisnis ini luar biasa pesat, sangat mengembirakan. Namun, akhirnya bisnis saya terhenti akibat adanya regulasi pemerintah berupa pembatasan barang impor. Bisnis saya pun vakum.

Di situ, lagi-lagi saya tidak menyerah dan melihat sisi positif dari kebijakan pemerintah. Pembatasan itu kan bertujuan mendorong produksi dalam negeri dan menciptakan lapangan kerja yang lebih besar bagi masyarakat di Tanah Air.

Hal itu memotivasi saya untuk membangun manufaktur untuk produk perawatan diri dan kosmetik berbahan susu kambing pertama bertaraf dan berkualitas internasional. Dengan segala kemampuan dan finansial yang saya miliki saat itu, akhirnya saya mendirikan PT Cakra Daya Makmur sebagai manufakur untuk produk perawatan diri dan kecantikan berbahan susu kambing pertama di Indonesia.

Mengapa Anda memilih produk tersebut?
Itu karena masih belum ada di Indonesia yang memproduksinya. Rata-rata semua produk masih impor. Padahal, penggunaan produk tersebut sedang menjadi tren di masyarakat. Selain itu, susu kambing kaya kandungan antioksidan serta berfungsi melembabkan kulit. Susu kambing juga kaya vitamin, protein, dan mineral, sehingga sampai sekarang masih jadi favorit.

Berbagai segmen usia, mulai usia 18 sampai 35 tahun sudah bisa pakai. Produknya kebetulan beragam, sehingga masing-masing segmennya berbeda-beda. Tapi kebanyakan target market-nya disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi dan lebih banyak menyasar perempuan.

Susu kambing yang dipakai masih ekstrak dari impor karena keterbatasan bahan baku lokal. Kami juga sudah mendapat sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sudah legal dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Jadi, kami sudah siap dari segi standar, baik nasional maupun internasional.

Respons pasar seperti apa?
Respons pasar sangat baik. Terlebih packaging produk kami sangat manarik, malah dianggap sebagai barang impor. Itu sengaja saya terapkan dengan ilmu yang saya dapatkan saat menjalani bisnis impor. Saat ini penyebarannya sudah hampir di seluruh kota di Indonesia.

Produk kami pun diekspor ke mancanegara, di antaranya Korea Selatan, Singapura, negara-negara di Afrika, dan AS. Ini membuktikan bahwa produk kami yang diproduksi di dalam negeri mampu bersaing dengan produk luar negeri. Saat ini, kami semakin berkembang dengan memiliki karyawan lebih dari 300 orang dan merambah ke produk kosmetik. Saya tengah menyiapkan berbagai tenaga ahli dan produksi yang dibutuhkan. Saya pun berharap bisa membawa perusahaan ini go public pada masa mendatang.

Prinsip berpikir positif pada setiap kesulitan Anda dapatkan dari mana?
Pengalaman saya jatuh bangun dalam berbisnis selama belasan tahun membuktikan bahwa berpikir positif di saat sulit sangatlah mujarab untuk mengatasi setiap kesulitan. Saya menjalaninya sejak masih muda. Saat itu saya tinggal di kota kecil, Pontianak, dengan latar belakang keluarga biasa saja. Ayah saya hanya pengusaha kecil yang berjualan di pasar dan harus menghidupi seluruh keluarganya.

Dari situ, saya melihat semangat ayah yang tekun dan sabar atau bisa dibilang sangat positif menjalani semuanya. Itulah yang sangat memengaruhi hidup saya. Oleh karena itu, saya tidak pernah menganggap sepele berbagai hal. Saya selalu bersemangat dan positif menjalani segala hal, bahkan yang dianggap orang hanya hal sepele. Saya anggap semuanya anugerah untuk semua profesi yang saya jalani, baik sebagai pemimpin perusahaan maupun sebagai ibu rumah tangga.

Yang sudah Anda capai saat ini merupakan impian Anda?
Hingga saat ini, saya masih merasa pencapaian ini tidak pernah terbayangkan atau menjadi impian saya. Terlebih dengan latar belakang saya, yang hanya keluarga sederhana dan ibu rumah tangga. Tapi saya bersyukur telah mencapai semuanya.

Sejak awal atau dari nol saya membangun perusahaan ini, tujuan saya hanya ingin melakukan hal baik, untuk keluarga mupun untuk karyawan saya. Saya ingin terus melakukan hal terbaik di masa depan untuk perusahaan ini. Makanya saya tak segan turun ke lapangan.

Saya juga selalu haus terhadap ilmu baru, saya punya rasa keingintahuan yang tinggi. Saya bahkan tidak segan untuk belajar lagi berbagai hal, walaupun terbilang sulit. Istilahnya, dengan semua pikiran positif dan semangat, saya menikmati semua prosesnya.

Saya pernah mengambil studi S2 dengan dua gelar berbeda, yaitu pendidikan farmasi dan kosmetik. Semua saya lakukan secara bersamaan di tengah kepadatan saya dalam memimpin dan menjalankan perusahaan, sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Itu saya lakukan karena saya ingin benar-benar bisa menguasai bidang yang saya tekuni. Jadi, saya ingin semua yang saya saya lakukan benar-benar berdasarkan pengetahuan.

Strategi Anda memajukan perusaaan?
Ada empat prinsip yang saya anut, yaitu inovasi, perbaikan secara terus-menerus (continuous improvement), integritas, dan kecepatan (speed). Pertama, yang terpenting adalah integritas untuk medapatkan kepercayaan dari para konsumen. Mendapat kepercayaan dari masyarakat adalah hal utama agar perusahaan ini selalu eksis. Untuk itu, kami selalu melibatkan tenaga ahli dan profesional di bidangnya, seperti dokter dan ahli farmasi.

Adapun speed diperlukan agar produk yang dihasilkan sesuai kebutuhan zaman. Lalu inovasi juga sangat penting agar kami dapat menciptakan produk baru yang disukai customer. Terakhir, continuous improvement pun diperlukan agar produksi kosmetik tetap berjalan di tengah pesatnya persaingan pasar kosmetik di dalam negeri. Produk kami tentu harus excellent (sangat baik).

Tidak hanya itu, saya juga selalu menanamkan sikap kepemimpinan (leadership) yang profesional dalam memimpin perusahaan. Selain itu, saya menerapkan sistem reward (penghargaan) berupa pendapatan yang cukup tinggi bagi karyawan yang memiliki prestasi. Itu bukan hanya agar para karyawan setia dan memiliki jiwa teamwork yang solid, tapi juga selalu semangat dalam bekerja. (*)



Sumber: Investor Daily
CLOSE