Apersi: Tapera Bantu Pembangunan Rumah MBR

Apersi: Tapera Bantu Pembangunan Rumah MBR
Ilustrasi Logo Apersi. ( Foto: Istimewa )
Imam Muzakir / GOR Rabu, 20 Desember 2017 | 16:18 WIB

JAKARTA – Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Indonesia menilai (Apersi) menilai kehadiran Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) dapat membantu pendanaan pengembang. Kini, konsep itu dalam proses pembentukan Badan Pengelola (BP) Tapera.

“Kehadiran Tapera bagus. Artinya, dana untuk sektor perumahan, terutama untuk rumah MBR menjadi cukup besar dan kuat. Sehingga pengembang properti bisa membangun rumah murah dalam jumlah besar,” kata Ketua Umum Apersi Junaedi Abdillah, kepada Investor Daily, di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Abdillah, selama ini, pembiayaan untuk sektor perumahan, terutama untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) ini masih terbatas. Selain itu, pinjaman perbankan masih menggunakan suku bunga komersial untuk membangun rumah MBR. Artinya, kata dia, dengan diberlakukannya Tapera ini ada dana murah yang cukup besar dan diharapkan nanti bunga yang diterapkan juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan perbankan yang saat ini masih memberatkan pengembang.

“Kalau ada Tapera kan dana cukup besar karena terhimpun di kepesertaan dan juga jangka panjang,” ujarnya.

Junaedi mengatakan, dana yang digelontorkan oleh pemerintah untuk MBR selama ini masih tergolong kecil. Dana itu mencakup Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) , subsidi Selisih suku bunga (SSB), Bantuan uang muka (BUM), dan dana PSU.

“Kami setuju ada evaluasi untuk pembiayaan perumahan MBR ini, dengan adanya Tapera dana bisa terkumpul cukup besar dan ini bisa menggenjot pembangunan sejuta rumah yang dicanangkan pemerintah,” kata dia.

Dia berharap, program Tapera ini bisa segera berjalan dan bisa dirasakan oleh masyarakat terutama bagi MBR yang ingin memiliki rumah murah bisa segera terwujud.

Mengatasi Backlog
Sementara itu, Setyo Maharso, mantan ketua umum DPP REI juga menilai bahwa Tapera ini harus segera terwujud, karena memang sudah amanat dari UU dan untuk segera di laksanakan.

“Sebenarnya program Tapera ini sudah lama dan seharusnya sudah bisa jalan, karena manfaatnya besar sekali untuk atasi backlog,” kata dia.

Saat ini, kekurangan rumah (backlog) sebesar 11,4 juta unit. Angka itu tergolong besar. Di sisi lain, rata-rata rumah yang bisa terbangun 400 ribu unit per tahun, sedangkan kebutuhan rumah berkisar 400 ribu hingga 800 ribu unit per tahun.

Setyo mengatakan, salah satu kendala sektor perumahan ini adalah masalah pembiayaan yang terbatas. Karena selama ini, masyarakat terkendala masalah pendanaan untuk memiliki rumah. Artinya, masyarakat bisa memiliki rumah dengan mengikuti Tapera yaitu dana yang dihimpun masyarakat ini bisa terkumpul bisa membeli rumah atau uang muka (down payment).

Selain itu, lanjut dia, kebutuhan tanah untuk rumah MBR juga terus naik dan harga rumah dipatok oleh pemerintah. Dengan adanya Tapera, pengembang bisa menggunakan Tapera untuk bisa melakukan kredit konstruksi dan pembelian lahan untuk MBR.

Sementara itu, Dirjen Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Lana Winayanti, pernah mengatakan, pelaksanaan Tapera bisa dimulai pada 2019. Pada tahap pertama akan diterapkan untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan juga karyawan BUMN. (*)



Sumber: Investor Daily