Tujuan Australia dan Selandia Baru

Malaysia Cegat Kapal Penyelundup Manusia

Malaysia Cegat Kapal Penyelundup Manusia
Sejumlah warga pengungsi Rohingya menyeberangi Sungai Naf, Wilayah Teknaf, Bangladesh. ( Foto: AFP / Dibyangshu Sarkar )
Iwan Subarkah / GOR Senin, 7 Mei 2018 | 20:27 WIB

KUALA LUMPUR – Otoritas Malaysia menahan lebih dari 12 orang yang diduga bagian dari sindikat penyelundupan manusia, setelah mencegat kapal membawa 127 migran asal Sri Lanka. Kapal itu diyakini tujuan Australia dan Selandia Baru

Otoritas Maritim Malaysia menyatakan, pekan lalu pihaknya mencegat kapal tanker modifikasi bernama Etra di perairan negara bagian Johor.

“Hampir 100 pria, 24 perempuan, dan sembilan anak-anak asal Sri Lanka berada di kapal itu, yang saat dicegat sedang bergerak ke perairan internasional,” ujar Kepala Polisi Diraja Malaysia Mohamad Fuzi Harun, seperti dilansir AFP pada Minggu (6/5).

Mohamad Fuzi menambahkan bahwa pihak berwenang telah menahan 16 orang karena terlibat dalam jaringan internasional penyelundup manusia. Tiga di antaranya warga negara Indonesia dan empat warga Malaysia. Para penyelundup menggunakan kapal nelayan untuk memindahkan para migran dari pantai Johor ke kapal tanker tersebut.

Empat warga Malaysia lainnya ditangkap dekat ibu kota Johor, Johor Bahru. Sedangkan tersangka kelima ditangkap di negara bagian Penang.

Sebanyak empat pria asal Sri Lanka ditangkap di atas kapal tanker. Mereka diduga terlibat dalam jaringan penyelundupan manusia ini.

Mohamad Fuzi mengatakan, 127 lainnya yang berada di kapal ditahan atas pelanggaran keimigrasian. Namun tidak diketahui di mana mereka ditahan atau sudah diperbolehkan keluar.

Mohamad Fuzi mengatakan, sindikat internasional yang para anggotanya mencakup warga negara Sri Lanka, Australia, Selandia Baru, Indonesia, dan Malaysia itu sudah beroperasi sejak pertengahan tahun lalu.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Sri Lanka pada Minggu menyatakan pihaknya bekerja sama dengan otoritas Malaysia untuk identifikasi para tersangka.

“Proses identifikasi 131 orang masih berlangsung. Namun informasi awal menyebutkan bahwa 43 dari 131 orang yang ditahan memegang kartu identitas yang dikeluarkan oleh Badan Pengungsi PBB atau UNHCR,” kata Kemlu Sri Lanka.

Kendati konflik dan perang antaretnis di Sri Lanka sudah berakhir pada 2009, namun puluhan ribu warganya masih menjadi pengungsi di negara tetangga India dan negara-negara lain.

Kasus pencegatan kapal penyelundup manusia tujuan Australia jarang terjadi di perairan Malaysia. Biasanya kapal-kapal ini berhasil melewati perairan wilayah Malaysia dan menuju Indonesia, selaku rute tradisional menuju Australia.

Selama bertahun-tahun, kebanyakan kapal itu berhasil dicegat atau tenggelam di perairan Indonesia. Arus penyelundupan manusia pun nyaris terhenti dalam beberapa tahun terakhir, setelah Australia menerapkan kebijakan-kebijakan keras pada 2013, yakni memulangkan kapal-kapal dimaksud.

Pada 2015, sejumlah kapal yang membawa warga Rohingya tiba di Malaysia, setelah otoritas Thailand menindak jaringan penyelundupan regional dan menghalau kapal-kapal itu dari perairan Thailand.

Kapal Rohingya yang tiba di barat laut Malaysia pada bulan lalu termasuk yang pertama berhasil mendarat. Alhasil, muncul kekhawatiran bakal lebih banyak kapal yang mengikuti jejak, seiring penindasan oleh pemerintah Myanmar membuat warga minoritas Rohingya yang melarikan diri dari tanah kelahirannya.

Namun kalangan pengamat menepis potensi terjadinya eksodus massal via jalur laut. Sebab, cuaca buruk dan badai pada bulan-bulan mendatang bakal menjadikan perjalanan laut itu sangat membahayakan. (afp)



Sumber: Investor Daily