Ilustrasi menonton situs porno di internet.

Jakarta - Penyedia layanan keamanan internet berbasis domain name system (DNS) Nawala mencatat bahwa dalam sehari saja, ada lebih dari 600.000 situs pornografi yang dikunjungi para pengguna layanannya. Tentunya, jumlah ini hanya berdasar pada database lembaga yang berbasis di Indonesia tersebut.

Tidak menutup kemungkinan pula bahwa jumlah situs porno yang dikunjungi orang tiap hari sebenarnya bahkan melebihi jumlah ini. Pasalnya, bisa jadi masih ada situs-situs porno lain yang tidak tersaring karena belum terdata di database Nawala.

Data yang dirilis pada Rabu (20/3) menunjukkan pornografi menempati urutan pertama terbanyak dalam daftar situs yang terblokir sistem DNS Nawala, dengan total 605.456 situs. Posisi terbanyak kedua ditempati perjudian dengan jumlah 9.635 situs, sementara ketiga ialah proxy sebanyak 1.989 situs. Sisanya, sebanyak 1.116 merupakan phising alias penyesatan ke alamat situs lain, 391 situs berbau penipuan dan aktivitas ilegal, dan 320 malware.

Direktur Pelaksana Nawala M. Yawin menyatakan, hingga saat ini belum ada peraturan yang secara ketat mengikat internet service provider (ISP) di tanah air agar memfilter layanannya. Ini menyebabkan masih banyak pengguna internet di Indonesia yang bisa mengakses situs-situs yang tergolong ‘negatif’ tersebut.

“(Aturan) itu kan diturunkan langsung dari UU ITE (Undang-undang Informasi dan Transasksi Elektronik, red.). Tapi UU ITE sampai saat ini saya tidak tahu penerapannya seperti apa,” ujar Yamin saat ditemui di konferensi pers yang digelar tadi siang. Menurutnya, selama ini himbauan pengawasan yang beredar ke operator hanya berbentuk surat edaran.

Itu sebabnya, lanjut Yamin, peraturan keamanan internet ini kerap dijadikan lelucon di kalangan provider. Ia menuturkan, penggunaan DNS Nawala melonjak pesat saat bulan puasa. “Saya bisa pastikan itu,” ujarnya yakin.

Penulis: Khara Garcia