Ahli energi dari Jepang, Kenzo Tsutsumi menyatakan, pemerintahnya saat ini mulai meninggalkan energi nuklir pasca-gempa dan tsunami pada 11 Maret 2011.
"Jadi, proyek energi nuklir yang baru tidak akan diizinkan, namun proyek lama akan dipakai hingga habis," katanya di hadapan mahasiswa ITS Surabaya, Rabu (22/2).
Saat berbicara dalam seminar Penghematan Energi di Jepang, ia menjelaskan pemerintah Jepang ke depan akan fokus pada gas dan energi terbarukan.
"Energi gas alam itu untuk jangka pendek, sedangkan untuk jangka panjang akan memanfaatkan energi terbarukan. Kami memrioritaskan lima sumber energi terbarukan, yakni surya, angin, biomassa, hidro, dan geothermal," katanya.
Presiden dari Velgia Laboratories itu menegaskan, bahwa fokus kepada energi terbarukan itu akan diawali dengan merancang UU yang mewajibkan pembelian lima sumber energi terbarukan hingga 2,5 persen.
"Hingga kini, pemanfaatan energi terbarukan masih dua persen, tapi kami menargetkan pada tahun 2030 atau 20 tahun lagi akan bisa meningkat 10 kali lipat menjadi 20 persen," katanya lagi.
Menurut dia, Jepang sendiri sudah memiliki UU Konservasi sejak tahun 1979, sehingga konservasi (penghematan) energi cukup berhasil dilakukan.
"Tapi, keberhasilan itu masih sebatas konservasi energi pada kalangan industri. Sedangkan penghematan energi untuk skala rumah tangga masih belum sukses. Karena itu kami akan segera fokus ke sana bersamaan dengan orientasi energi terbarukan. Bisa jadi, ada insentif energi bagi kalangan rumah tangga," katanya.
Tsutsumi menegaskan, bahwa keberhasilan dalam konservasi energi itu tidak menurunkan produktivitas. "Terbukti, ekonomi Jepang meningkat 2-5 kali lipat dibandingkan dengan tahun 1979, tapi konsumsi energi relatif tetap," katanya.





