Ini Penyebab Riset Indonesia Kalah dari Negara Tetangga

Ini Penyebab Riset Indonesia Kalah dari Negara Tetangga
Media briefing ajang "Merck-i3L Award", di Jakarta, 13 Juni 2016. ( Foto: Beritasatu.com/Herman )
Herman / FER Senin, 13 Juni 2016 | 20:47 WIB

Jakarta - Dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura atau Thailand, jumlah peneliti di Indonesia maupun hasil penelitian yang mendunia dari Indonesia tergolong masih kecil, khususnya di bidang life science. Dalam penelitian British Council tahun 2015 bertajuk Research Performance in South East Asia, disebutkan hanya 0,19 persen kutipan mendunia yang tercipta dari peneliti Indonesia, dan dampak dari kutipan 18 persen di bawah rata-rata dunia.

Direktur Eijkman Institute, Prof Amin Subandrio, mengatakan, saat ini rasio jumlah peneliti Indonesia dengan jumlah penduduk memang masih sangat timpang. Salah satu pemicunya karena tingkat pendidikan yang belum merata, apalagi hingga jenjang S2 atau S3.

"Fasilitas penelitian yang bagus juga masih terfokus di pulau Jawa, padahal ketersediaan fasilitas juga sangat memengaruhi larihnya peneliti-peneliti baru," papar Amin Subandrio di acara media briefing ajang Merck-i3L Life Sciences Award, di Jakarta, Senin (13/6).

Amin juga melihat adanya anggapan kalau perguruan tinggi lain merupakan pesaing, sehingga para peneliti yang ada di Indonesia kurang tertarik untuk melakukan kolaborasi antar perguruan tinggi.

"Mungkin ini sudah jadi budaya, tapi sedang kita upayakan supaya ada kerjasama antar perguruan tinggi. Karena kan tidak mungkin satu institusi bisa bekerja sendiri, pasti mereka memiliki keterbatasan," tambah Amin.

Ilmuan muda Indonesia yang meraih gelar PhD pada usia 28 tahun, Amadeus Yeremia Pribowo, juga mengkritik rendahnya dana penelitian dari pemerintah yang masih sekitar 0,09 persen dari produk domestik bruto (PDB).

"Ini rendah sekali, bahkan tidak sampai 0,1 persen dari PDB. Harusnya bisa ditingkatkan lebih tinggi seperti negara lain," kritiknya.

 

Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE