Menristekdikti Luncurkan 5 Produk Radiofarmaka Batan i

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir memberi sambutan saat meluncurkan lima produk radiofarmaka Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), 19 Juni 2017.

Oleh: Ari Supriyanti Rikin / FER | Senin, 19 Juni 2017 | 17:46 WIB

Tangerang Selatan - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir meluncurkan lima produk radiofarmaka Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Produk radiofarmaka ini bisa digunakan untuk terapi dan diagnosa penyakit seperti kanker, jantung dan ginjal.

Saat ini, Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) telah menghasilkan lima produk radiofarmaka yang telah mendapatkan izin edar. Ketersediaan produk radiofarmaka dapat menjadi alternatif atau bahkan menjadi pilihan terbaik untuk kebutuhan diagnosa dan pengobatan beberapa jenis penyakit yang saat ini masih belum memuaskan dengan produk farmasi biasa.

PTRR Batan merupakan satu-satunya lembaga pemerintah di Indonesia yang diberi kewenangan untuk mengembangkan produk-produk radiofarmaka dengan menggandeng sejumlah perusahaan farmasi. PTRR Batan telah mengantongi sertifikasi cara pembuatan obat yang baik (CPOB) dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, riset jangan hanya sebatas publikasi dan tersimpan di perpustakaan, namun harus dihilirisasikan dan komersialisasikan.

"Langkah Batan dalam melakukan hilirisasi hasil riset sangat diapresiasi," kata Nasir, dalam Penandatanganan Kontrak Kerja Sama Teknologi Industri dan Launching Produk Hasil Litbang di Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Senin (19/6).

Produk-produk teknologi nuklir, lanjut Nasir, telah memberikan kontribusi yang besar dalam bidang kesehatan, energi, pertanian, industri, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan.

"Salah satunya adalah pemanfaatan radiofarmaka di bidang kesehatan. Di negara negara maju, radiofarmaka telah menjadi pilar utama dalam menyelesaikan masalah kesehatan," tambah Nasir.

Menurut laporan dari Badan Tenaga Nuklir Internasional, jumlah pasien di seluruh dunia yang ditangani menggunakan radiofarmaka telah melebihi 6 juta pasien per tahun. Untuk Indonesia, Menristekdikti mengatakan, saat ini ada belasan rumah sakit di tanah air yang telah memiliki fasilitas kedokteran nuklir.

Jenis penggunaan radiofarmaka tertinggi adalah penggunaan untuk diagnosis penyebaran kanker tulang menggunakan radiofarmaka MDP. Radiofarmaka ini merupakan salah satu produk Kimia Farma hasil pengembangan Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka Batan.

Menristekdikti menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk mendukung pengembangan riset dan pengembangan teknologi nuklir di Indonesia. Sebagai bentuk dukungan Kemenristekdikti dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia, Kemenristekdikti melalui Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan memberikan dukungan pendanaan dalam skema program pengembangan teknologi industri dan insentif sistem Inovasi nasional (Insinas).

"Total alokasi dana yang disiapkan untuk mendukung riset dan pengembangan sebanyak Rp 81 miliar. Kemristekdikti mengundang Lembaga Pemerintah Non Kementerian di bawah Kemristekdikti dan perguruan tinggi untuk memanfaatkan dana ini," ucapnya.

Selain pendanaan, Menristekdikti juga mendukung tumbuhnya iklim riset dan pengembangan di Indonesia dengan mengeluarkan regulasi-regulasi riset yang lebih baik.

Deputi Bidang Pendayagunaan Teknologi Nuklir Batan, Hendig Winarno, mengungkapkan, fungsi radioisotop dan radiofarmaka untuk pencitraan atau diagnosis, pemeriksaan fungsi tubuh dan terapi kanker paliatif. "Beberapa produk kami masuk ke dokumen formularium nasional," ujarnya.

Untuk ke depan, kata Hendig, PTRR terus mengembangkan dan produksi kit radiofarmaka MAA untuk diagnosis kanker paru, radiofarmaka tetrofosmin untuk diagnosis jantung dan produk kapsul untuk terapi kanker tiroid.

"Diharapkan dengan dukungan pendanaan dari Kemristekdikti dalam 1-2 tahun produk tersebut sudah dikomersialkan," kata Hendig.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT