Yang Perlu Anda Tahu Sebelum Beli Jip Mercedes

Yang Perlu Anda Tahu Sebelum Beli Jip Mercedes
Deretan mobil Mercedes G-Class milik anggota Mercedes Jip Indonesia diparkir di kawasan Nusa Dua, Bali, 12 Desember 2017. ( Foto: Beritasatu.com / Heru Andriyanto )
Heru Andriyanto / HA Minggu, 17 Desember 2017 | 11:06 WIB

Nusa Dua - Bentuknya boxy dan kuno, namun bagi penggemarnya tak pernah lekang oleh waktu dan pabriknya di Austria masih terus memproduksi varian terbaru dengan tampilan eksterior yang tak beda jauh dengan model pertama 40 tahun yang lalu.

Mercedes G-Class, kendaraan sport serbaguna atau SUV yang tangguh di segala medan, merupakan salah satu model yang paling banyak diburu kolektor dan SUV enthusiasts hingga kini.

Namun ini mobil Mercedes, sehingga peminatnya tak boleh mengharap harga yang murah bahkan untuk model yang sudah berumur puluhan tahun.

Yang Kecil Justru Lebih Mahal
Cokorda Adnyana, Presiden Mercedes Jip Indonesia (MJI) yang menaungi para pemilik G-Class di Tanah Air, menyarankan agar calon pembeli mempelajari dulu rentang harga G-Class sesuai tahunnya, agar punya gambaran lebih jelas sebelum membuat keputusan.

Dalam perbincangan dengan Beritasatu.com belum lama ini Cokorda juga menyebutkan karakter unik pasar G-Class bekas yaitu tipe yang pendek justru lebih mahal daripada tipe sasis panjang.

"Jadi yang long wheel base justru lebih murah daripada yang sasis pendek. Padahal kalau sama-sama baru yang lebih panjang jelas lebih mahal karena materialnya lebih banyak, mesin lebih besar, dan interior juga lebih lega," kata Cokorda.

"Penyebabnya karena G-Class pendek ini lebih sedikit populasinya namun banyak dicari sehingga harganya naik. Intinya adalah rarity."

Pernyataan Tjokorda ini benar adanya.

Jimmy Jati Utomo, pemilik G-Class asal Semarang, mengatakan pernah memiliki G-Class sasis pendek buatan 1985, tahun lalu dia jual seharga Rp 800 juta.

"Sekarang saya memakai yang long chassis tahun 1990, saya beli bahan saja (kondisi apa adanya) hanya Rp 100 juta, ditambah ongkos turun mesin dan restorasi Rp 200 juta, jadi total Rp 300 juta," kata Jimmy, 40, kepada Beritasatu.com.

Mercedes G-Class sasis pendek. (Beritasatu Photo)

Artinya, G-Class pendek tahun 1985 justru jauh lebih mahal dibandingkan tipe yang lebih besar buatan 1990.

Hal serupa diungkapkan Boedi Wicaksono, pengusaha asal Surabaya yang dulu membeli G-Class sasis pendek buatan 1985 seharga Rp 130 juta.

Sepuluh tahun kemudian bukannya turun, mobilnya justru laku Rp 1 miliar.

"Sekarang saya pakai yang pendek lagi, entah sudah berapa harganya," kata Boedi sambil tersenyum.

Rentang Harga
Cokorda, yang mengoleksi empat G-Class di garasinya termasuk varian G-63 AMG tahun 2015, mengatakan pasar mobil ini masih sangat bagus dan menjadi salah satu incaran para kolektor.

Untuk G-Class sasis panjang rentang harganya relatif bisa diprediksi.

"Buatan 1994-1998 harganya Rp 400 juta sampai Rp 1 miliar. Kalau sudah di atas 2011, dana yang dibutuhkan antara Rp 2,5 miliar sampai Rp 3,2 miliar," ujarnya.

Untuk keluaran sebelum 1994, dituntut kemampuan calon pembeli dalam menawar.

"Punya saya itu dulu saya beli Rp 200 juta, ditambah biaya turun mesin dan suku cadang sekitar Rp 50 juta," kata Noval Sedawinata, 40, pemilik G-Class tahun 1989 asal Jakarta.

(Courtesy of Agoes Budi Cahyono, OtoBlitz)

Konsumsi BBM dan Perawatan
G-Class merupakan SUV dengan penggerak empat roda, sehingga konsumsi bahan bakarnya tentu lebih boros dibandingkan SUV penggerak dua roda yang banyak beredar di Indonesia. Apalagi dibandingkan mobil keluarga.

"Selama dua hari perjalanan Banyuwangi-Bali dan keliling dua kota itu dana bensin sekitar Rp 1,2 juta," kata Noval.

Perkiraan konsumsi bahan bakar adalah 1 liter untuk empat kilometer. Sebagian besar G-Class yang ada di Indonesia berbahan bakar bensin, dan hanya sedikit yang bermesin diesel.

Yang juga harus dieprtimbangkan, standar minimal kualitas bahan bakan adalah yang berkadar oktan 95, misalnya Pertamax Plus atau Pertamax Dex untuk diesel.

"Sangat disarankan Pertamax Turbo dengan oktan 98, tapi kalau tidak ada ya harus Pertamax Plus atau yang setara," kata Cokorda.

"Saya pernah dalam perjalanan di Jawa Tengah karena tidak menemukan Pertamax Plus, kemudian memakai Pertamax biasa. Sampai di rumah mobil rusak."

Karena itu Cokorda menyarankan agar pemakai G-Class yang dalam perjalanan jauh membawa tangki BBM cadangan atau mengunduh aplikasi "My Pertamina" yang berisi lokasi 700 SPBU penyedia Pertamax Turbo dan Pertamax Plus di seluruh Indonesia.

(Beritasatu Photo)

Ketika membeli mobil bekas, yang harus diperhatikan pertama kali adalah kelistrikan dan suhu mesin, kata Jimmy.

"Meskipun mesinnya tangguh dan awet, tapi kelistrikan pasti rentan karena betapa pun kabel-kabelnya kan berbahan plastik dan pasti terpengaruh usia. Itu tak bisa dihindari," kata Jimmy.

"Kemudian juga gejala overheat (mesin terlalu panas) itu harus segera ditangani."

Biaya restorasi di luar harga pembelian diperkirakan antara Rp 50 juta sampai Rp 200 juta tergantung kondisi mobil, ujar Jimmy.

Sedangkan untuk suspensi dan penopang roda lainnya -- atau istilah bengkel "kaki-kaki" -- dijamin kuat karena G-Class dirancang untuk segala medan, ujarnya. Meski demikian, dia menyarankan pembeli G-Class bekas tetap melakukan pemeriksaan secara menyeluruh sebelum membawanya ke jalan.

Demikian juga fitur canggih untuk mengubah penggerak roda di medan yang berat atau four-wheel drive differential di G-Class umumnya masih bisa diandalkan meskipun sudah berumur.

"Kemarin sudah saya tes off-road, alhamdulillah meskipun ini buatan 1989 namun differential-nya masih bekerja bagus," kata Noval.

(Beritasatu Photo)



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE