Djarot: Revitalisasi Lapangan Banteng Ide Ahok

Gubernur DKI, Djarot Saiful Hidayat menyaksikan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Revitalisasi Lapangan Banteng yang dilakukan oleh PT Rekso Nasional Food di Balai Kota DKI, Jakarta, 9 Agustus 2017. (BeritaSatu Photo/Lenny Tristia Tambun)

Oleh: Lenny Tristia Tambun / PCN | Kamis, 10 Agustus 2017 | 17:25 WIB

Jakarta – Revitalisasi Lapangan Banteng, Pasar Baru, Jakarta Barat segera dimulai seiring dengan telah ditandatanganinya Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI dengan pengembang swasta PT Rekso Nasional Food di Balai Kota DKI, Kamis (10/8).

Dalam acara tersebut, Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat menyebutkan rencana untuk revitalisasi Lapangan Banteng merupakan idenya Gubernur DKI ke-16, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Rencana itu sudah lama disampaikan Pak Ahok. Dan kami sudah berdiskusi bersama-sama untuk mencari cara bagaimana mewujudkannya,” kata Djarot dalam acara tersebut.

Ahok memikirkan bagaimana Lapangan Banteng tersebut bisa digunakan dan dimanfaatkan oleh warga Jakarta selama 24 jam dengan penerangan yang cukup terang.

“Dan akhirnya, rencana tersebut, yang idenya datang dari Pak Ahok dapat terwujud hari ini,” ujarnya.

Revitalisasi Lapangan Banteng akan dibagi menjadi tiga zona yaitu zona Monumen Pembebasan Irian Barat, pusat olahraga dan ruang terbuka hijau (RTH) bertaraf internasional.

“Nanti di sini, juga ada lapangan sepak bola. Saya pernah datang waktu latihan Persija di Lapangan Banteng. Saya bilang, di sini akan dibangun lapangan sepak bola sehingga mereka bisa menggunakan lapangan ini untuk latihan. Atau latihan sepak bola untuk anak-anak, sehingga bisa ditemukan bibit unggul baru,” jelasnya.

Selain lapangan sepak bola, yang menjadi perhatian Ahok adalah monumen Patung Pembebasan Irian Barat. Bagi Ahok, monumen tersebut mempunyai sejarah penting bagi bangsa Indonesia, khususnya penduduk Irian Barat yang kini sudah berganti nama menjadi Papua.

“Pak Ahok pada saat itu cerita betapa pentingnya Patung Pembebasan Irian Barat. Dan banyak orang yang tidak tahu,” ungkapnya.

Djarot juga menilai banyak warga Jakarta, terutama generasi muda Indonesia, tidak mengetahui sejarah Patung Pembebasan Irian Barat. Sehingga, monumen tersebut tidak diurus dengan baik dan terlupakan begitu saja.

“Padahal patung ini merupakan simbol sejarah yang tidak boleh dilupakan generasi muda dan yang akan datang. Yaitu, warga Irian Barat dan Indonesia bersatu,” tuturnya.

Bahkan model dari patung tersebut, benar-benar warga asli Irian Barat. Warga itu diminta Presiden RI pertama, Bung Karno untuk menjadi model patung simbol untuk memutuskan rantai. “Sampai saat ini keluarga keturunan warga itu masih ada,” terangnya.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT