DKI Akan Buat Aturan Operasi Becak Sebagai Angkutan Lingkungan dan Wisata

DKI Akan Buat Aturan Operasi Becak Sebagai Angkutan Lingkungan dan Wisata
Tukang becak mengangkut penumpang saat melintas di kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta, 17 Januari 2018. ( Foto: Antara / Aprilio Akbar )
Lenny Tristia Tambun / CAH Sabtu, 20 Januari 2018 | 11:23 WIB

Jakarta – Niat mengoperasikan kembali becak sebagai moda transportasi alternatif bagi warga Jakarta semakin kukuh dilakukan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Bahkan, keduanya sudah merencanakan akan membuat aturan khusus mengenai operasional becak sebagai angkutan lingkungan dan angkutan di tempat-tempat wisata.

Pembuatan aturan tersebut akan diserahkan ke Dinas Perhubungan (Dishub) DKI sebagai intansi yang berwenang atas pengembangan transportasi di Ibu Kota.

Sandiaga mengatakan becak harus dijadikan semacam ikon budaya. Sehingga keberadaan becak sangat wajar bila dioperasikan untuk tempat pariwisata atau di wilayah-wilayah tertentu.

“Becak itu harus tentunya jadi semacam ikon budaya. Jadi tempatnya untuk pariwisata atau di wilayah tertentu,” kata Sandiaga di Balai Kota DKI, Jumat (19/1).

Karena itu, ia sudah memerintahkan Dishub DKI untuk menyusun aturan baru mengenai operasinalisasi becak sebagai angkutan lingkungan dan angkutan pariwisata.

Ia tidak menyebutkan apakah aturan tersebut akan berbentuk peraturan gubernur atau peraturan daerah. Sehingga dapat mematahkan aturan dari peraturan pelarangan becak yang telah ada.

“Nanti Pak Kadishub lagi menyusun (aturan). Agar sebuah kearifan lokal yang hadir. Becak itu hadir karena ada yang membutuhkan,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan becak termasuk kekinian bukan malah kemunduran dalam transportasi sebuah daerah yang menjadi Ibu Kota negara. Sandiaga mengambil contoh pengalamannya saat mengikuti lomba lari di New York.

“Waktu saya ikut marathon di New York, 2012. Setelah finish, dingin cuacanya drop, ada Pak Dubes juga, Pak Dino Patti Djalal. Saya tertatih-tatih habis lari, finish balik ke hotel. Setelah saya nunggu, lalu setelah itu Pak Anindya Bakrie datang pakai becak di tengah-tengah New York City, di Central Park. Becaknya yang digenjotnya di depan, duduknya di belakang, namanya New York Cab. Saya tanya berapa bayarnya, 100 dolar. Ternyata becak-becak itu dijaga di satu rute khusus, dengan bingkai pariwisata. Jadi memang untuk even khusus, jalan ditutup dengan rute khusus, bukan di jalan raya,” jelasnya.

Karena itu, ketika ada permintaan dari masyarakat untuk menghidupkan kembali becak, ia bersama Anies setuju. Dengan satu syarat, selama konsep tidak keluar dari lingkungan pemukiman warga dan memudahkan para pelaku UKM untuk mengangkut barangnya.

“Selama tidak keluar dari konsep sebagai angkutan lingkungan, itu patut dipertimbangkan. Makanya aturannya akan dilakukan dengan kajian yang secara mendetail. Kita harus pastikan tidak menambah kesemrawutan tetapi menambah daya tarik pariwisata,” terangnya.

Adanya pro kontra terhadap kebijakan menghidupkan kembali becak di Jakarta, bagi Anies tidak suatu masalah yang besar. Justru pro kontra tersebut merupakan bagian dari kebijakan publik.

“Kebijakan apa pun pasti ada perspektif yang setuju dan tidak setuju. Tetapi saya sampaikan kenyataannya saja, ada lebih dari seribu becak yang masih ada di Jakarta. Dan kenyataannya, becak ini masih beroperasi di lingkungan perkampungan,” kata Anies.

Karena itu, pihaknya akan mengatur keberadaan mereka dengan sebuah aturan baru yang memperbolehkan beroperasi hanya sebagai angkutan lingkungan saja. Ia meminta semua pihak jangan membayangkan becak seperti tahun 1970 atau 1980. Tetapi bayangkan becak yang beroperasi di tahun 2000-an.

“Kita sudah hidup di era tahun 2 ribuan. Ya jadi sudah mengalami transformasi. Bahkan kami percaya, nanti ketika kebijakannya sudah muncul persis seperti DP nol persen, semuanya menganggapk banyak sekali enggak bisa jalan. Itu problematis. Nanti kita akan muncul dengan kebijakan lengkap, nanti baru kita umumkan,” ungkapnya.

Penolakan DPRD

Ketua DPRD DKI, Prasetio Edi Marsudi menilai kebijakan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI, tidak membuat kondisi Kota Jakarta semakin membaik. Ia melihat kondisi Jakarta sebagai Ibu Kota negara semakin terlihat kumuh.

Harusnya, Anies belajar dari pengalaman Gubernur DKI Sutiyoso. Yang pada tahun 1998, Bang Yos – sapaan akrab Sutiyoso – sempat mengizinkan becak beroperasi. Setelah sempat dilarang oleh Gubernur DKI sebelumnya, Soerjadi Soedirdja.

Namun karena menimbulkan persoalan baru, yakni selain tidak manusiawi, juga sulit mengatur keberadaan tukang becak dan tidak sesuai dengan kondisi Jakarta sebagai Ibu Kota negara, maka tahun 2001, Bang Yos merazia dan menghapuskan becak dari Jakarta.

“Lha sekarang becak mau dihidupkan kembali. Belum lagi motor kembali dibebaskan melalui Jalan MH Thamrin. Kalau misalnya terjadi apa-apa, siapa yang mau tanggung jawab,” tuturnya.

Seperti diketahui, dioperasikannya becak merupkan salah satu kontrak politik yang ditandatangani Anies dan Sandi saat kampanye Pilkada DKI 2012. Kontrak politik tersebut diajukan oleh Forum Komunikasi Tanah Merah Bersatu yang ditandagani Anies pada tanggal 2 Oktober 2016.



Sumber: BeritaSatu.com