Irshad Manji, penulis dan intelektual Islam
Meyakini bahwa Islam memiliki tradisi yang menjadikan pemeluknya berpikir kreatif.

Kedatangan penulis dan tokoh Islam reformis Irshad Manji begitu ditentang sejumlah pihak. Diskusi di Salihara dan AJI Jakarta sempat ricuh terutama dengan protes Front Pembela Islam yang menilai Irshad Manji sebagai tokoh yang bisa membawa pandangan bahwa Islam terbuka pada gay dan lesbian.

Siapakah sebenarnya Irshad Manji?

Lahir pada 1968 di Uganda, Irshad berdarah India dan Mesir. Ia terpaksa hijrah dari negara itu ketika pada 1971-1973, pemerintahan diktator militer Jenderal Idi Amin, mengusir ribuan keluarga Asia keluar dari negara itu. Termasuk keluarga Irshad yang memutuskan pindah ke Vancouver, Kanada pada 1972.

Di Kanada, Irshad dibesarkan dalam dua jenis sekolah, sekolah publik yang sekuler dari Senin hingga Jumat, dan di madrasah selama beberapa jam setiap Sabtu. Sementara ia unggul di sekolah umum, Irshad dikeluarkan dari madrasah pada usia 14 tahun karena dinilai terlalu banyak bertanya.

Pengalaman ini menjadikan Irshad mempelajari Islam lebih mendalam karena yakin bahwa yang ia terima saat berada di madrasah bukanlah pendidikan, namun indoktrinasi. “Pendidikan melepaskan izin untuk berpikir; sementara indoktrinasi membatalkannya,” ujarnya.

Tekadnya ini sejalan dengan makna namanya. Dalam bahasa Arab, Irshad berarti “panduan”. Dari situlah Irshad Manji menemukan makna hidupnya untuk membimbing manusia tentang reformasi Muslim dan keberanian moral.

Pada 1990, ia mendapatkan Honors Degree di bidang sejarah dari University of British Columbia, meraih medail Governor-General sebagai lulusan terbaik.

Setelah lulus, Irshad menjadi asisten legal bagi anggota parlemen, kemudian sekretaris pers bagi Kementerian Bidang Perempuan di Ontario.

Pada 1992, di usia 24 tahun, ia masuk ke bidang media sebagai Editor Bidang Nasional bagi surat kabar Ottawa Citizen, menjadi orang termuda yang duduk di bidang editorial di koran harian Kanada itu.



Pada 1997 Irshad mempublikasikan buku Risking Utopia: On the Edge of a New Democracy,  tentang bagaimana kaum muda mendefinisikan kembali demokrasi pada masa jaringan media yang begitu cair, bergantinya nilai-nilai sosial, dan identitas personal yang fleksibel. Saat ini, buku Risking Utopia digunakan secara luas oleh para pendidik Kanada untuk merumuskan kembali sekolah umum.

Pada 1998-2001, Irshad mulai memproduksi dan menjadi pembawa acara QueerTelevision di Citytv Toronto, program komersial pertama di dunia yang mengeksplorasi kehidupan orang-orang gay dan lesbian.

Ia juga menegosiasikan sindikat QueerTelevision melalui situs portal yang berada di San Francisco, planetout.com, menjadikan QueerTelevision menjadi salah satu program pertama yang disiarkan secara streaming di Internet.

Sebagai seorang Muslim reformis, Irshad berusaha menempatkan keberanian moral dalam praktik realita. Buku terakhirnya, Allah, Liberty and Love adalah panduan untuk mendamaikan keyakinan dan kebebasan dalam sebuah dunia yang memiliki begitu banyak dogma yang menekan.

Pada 2001, Irshad meluncurkan sebuah program TV di TVOntario, Big Ideas, yang membahas riset-riset di bidang ekonomi hingga spiritualitas. Selama waktu itu, Irshad bergabung dengan University of Toronto's Hart House sebagai jurnalis in residence. Di sinilah ia menulis Trouble with Islam Today: A Muslim's Call for Reform in Her Faith yang dirilis pada 2004 dan menjadi international bestseller.

Pada 2005, Irshad bergabung sebagai visiting fellow di Yale University dan menjadi senior fellow dengan European Foundation for Democracy, memberikan pengajaran publik tentang Islam.

Di tahun inilah Irshad membuat film yang diproduksi PBS dan mendapat nominasi Emmy Awards, Faith Without Fear yang ditayangkan secara “underground” di Timur Tengah dan Afrika Utara. Film Faith Without Fear disiarkan pada 2007.

Saat di salah satu pemutaran film itu di Robert F. Wagner Graduate School of Public Service di New York University, dekan sekolah tersebut kemudian merekrut Irshad untuk mengajar tentang keberanian moral (moral courage).

Sejak itu Irshad pindah ke Manhattan, dan kemudian mendirikan Moral Courage Project. Program kepemimpinan ini membimbing siswa untuk berani mengoreksi secara politis, menyelaraskan secara intelektual, dan melakukan sensor pribadi baik dalam keluarga, komunitas, dan organisasi. Pada masa inilah ia mulai menulis buku Allah, Liberty and Love.

Irshad adalah pendiri dan presiden yayasan bernama Project Ijtihad, sebuah kampanye untuk memperbarui tradisi Islam menjadi tradisi yang menjadikan pemeluknya berpikir kreatif.

Salah satunya, PI menulis doa pernikahan antariman secara Islam, yang memperbolehkan kaum Muslim – terutama perempuan – untuk menikah dengan non-Muslim tanpa takut. Doa ini diunggah secara online di 20 bahasa.


Penulis: