Ingin memiliki anak lebih dari satu tetapi bingung berapa lama jeda usia terbaik?

Coba pertimbangkan faktor kelebihan dan tantangannya di bawah ini:

Jeda 1 tahun
Kelebihan
- Jika Anda memiliki anak kedua dengan jarak setahun dari anak pertama, artinya kerepotan merawat bayinya akan lebih cepat berakhir.

Saat merawat anak pertama dan kedua yang jedanya tak terlalu jauh artinya Anda memanfaatkan momen kurang tidur dalam waktu dekat.

"Begitu urusan popok, botol susu, dan segala berkait bayi itu usai, selesai pula urusan itu, tak usah diulang jika tak berencana memiliki anak lagi," kata Michele Borba, Ed. D, ahli perkembangan anak dan pengarang The Big Book of Parenting Solutions.

- Anak bisa jadi sahabat dekat. Meski memang rasa iri bisa terpicu di antara anak, tetapi salah satunya tidak akan merasa "tergantikan".

- Lebih cepat mengajarkan cara buang air di toilet, karena si anak kedua akan mencontoh kakaknya. Contoh adalah cara paling mudah mengajarkan anak.

Tantangannya
- Meningkatkan risiko masalah kesehatan. Periset dari Columbia University, New York, Amerika Serikat, anak kedua yang lahir dengan jeda kurang dari 2 tahun memiliki risiko mengalami autisme lebh besar.

Begitu pun ibu yang melahirkan anak kedua di bawah jeda 18 bulan berisiko melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah atau prematur.

- Mengurus dua anak dalam jarak kelahiran dekat bisa menguras kekuatan dan isi dompet. Bayi punya kebutuhan yang sangat banyak, dan biaya segala yang berhubungan dengan bayi tidak murah.

- Kurang waktu untuk bisa menikmati perkembangan masing-masing anak. Kerepotan mengurus dua anak bisa mengaburkan perhatian utama terhadap titik-titik perkembangan anak yang biasanya penuh emosional, contoh; kata pertama, langkah pertama, dan lainnya.

Jeda 2-3 tahun
Kelebihan
- Kemungkinan terbesar, anak pertama yang sudah memasuki usia 3 tahun sudah masuk usia prasekolah, artinya anak kedua akan punya waktu lebih banyak untuk diperhatikan orangtuanya. Anak pertama seusia ini umumnya sudah tidak akan merasa cemburu karena "tergantikan". Si kakak juga sudah bisa diajarkan untuk membantu ibunya.

- Bisa menggunakan alat yang sama. Alat-alat untuk bayi biasanya cukup mahal. Jika si kakak sudah punya ranjang, car seat, atau tempat duduk makan, dan lainnya, artinya si adik tidak perlu membeli barang yang sama, bisa gunakan yang dulu dipakai kakak.

- Sempat menikmati waktu tidur nyaman bersama pasangan. Di usia 2-3 tahun umumnya si anak sudah bisa tidur sendiri, jadi orangtuanya sudah bisa merasakan nyamannya tidur nyenyak bersama tanpa bangun di tengah malam sebelum mulai lagi masa-masa bangun tengah malam untuk menyusui anak.

Tantangannya
- Kehamilan sambil menjaga balita bisa jadi hal yang menantang. Umumnya kehamilan akan sangat melelahkan, ditambah harus mengejar anak balita, bisa menambah kesibukan dan kelelahan ibu hamil.

- Urusan popok jadi dua kali lipat, apabila si kakak belum belajar buang air di toilet.

- Ada kemungkinan perasaan ingin mempercepat segala titik perkembangan pada kakak supaya bisa memerhatikan si adik lebih banyak.

Jeda di atas 4 tahun
Kelebihan
- Umumnya, sang kakak akan lebih ingin terlibat dan membantu orangtuanya. Anak di atas 4 tahun yang mendapatkan adik, umumnya akan merasa jadi bagian penting dalam keluarga. Ia jadi lebih maklum untuk menyibukkan diri sendiri saat orangtuanya harus memerhatikan adiknya.

- Setiap anak punya kesempatan untuk merasa disayang sebagai "bayi" dalam keluarga untuk waktu cukup lama.

- Anak bisa saling belajar saat bermain bersama. Si kakak bisa belajar cara merawat adiknya, bahkan bisa latihan membaca.

Tantangannya
- Si kakak yang sudah terbiasa menjadi satu-satunya anak mungkin saja segan menerima kedatangan si adik. Bisa saja ia akan merasa tersaingi oleh sang adik, apalagi jika mainannya dirusakkan oleh adik.

- Jeda di atas 5 tahun berisiko untuk kesehatan orangtua atau bayinya. Studi terkini terhadap 11 juta perempuan menunjukkan, ibu yang melahirkan anak kedua dengan jeda 5 tahun memiliki risiko 20-43 persen lebih tinggi mengalami kelahiran prematur atau bayi lahir dengan berat badan rendah. Ada pula risiko kelahiran abnormal, eklamsia, dan masalah berhubungan dengan tekanan darah tinggi lainnya.

Namun, setiap tantangan disebutkan di atas ini bukan kepastian, tetapi masih berupa kemungkinan. Jika Anda dan suami sudah sepakat menjalankan peran orangtua bersama dan saling bekerja sama, mudah-mudahan segalanya bisa berjalan lancar.

Penulis: /WEB