Peminat video game mengalahkan permainan konvensional.

Bila Anda bingung mau membelikan hadiah atau kado untuk perempuan cilik yang sekiranya akan disukai, sebaiknya pikir dua kali untuk membelikannya boneka.

Menurut studi, saat ini anak-anak perempuan kecil lebih memilih permainan video (video games) ketimbang mainan-mainan konvensional lainnya.

Selama dekade 1950-1990an, mainan-mainan seperti Lego, Barbie, dan boneka bayi merajai permintaan dari anak-anak perempuan. Namun, hasil penelitian dari perusahaan yang berkecimpung di bidang energi, E.ON, menemukan, ada pergeseran permintaan ke mainan elektronik.

Awalnya, di tahun 1980an, permintaan anak-anak perempuan berupa Nintendo Game Boy, kemudian beranjak ke Sony Playstation, lalu Xbox dari Microsoft, kini ke Wii dari Nintendo.

Di tahun 1980an, mainan elektronik menempati posisi kelima, namun, sekarang sudah menempati posisi pertama.

Permainan konstruksi atau bongkar pasang masih menempati posisi kedua dari daftar terfavorit anak perempuan. Sementara boneka menempati posisi ketiga dari survei yang melibatkan 2 ribu responden itu.

Mantan direktur Play England sekaligus pemerhati permainan anak di Inggris, Adrian Voce OBE mengatakan, boneka tidak akan benar-benar mati dan kehilangan peminat.

"Boneka mungkin saja tak lagi di posisi pertama sebagai mainan yang diminati anak-anak perempuan, namun menurut saya tidak akan benar-benar lenyap," kata Voce.

Menurutnya, boneka membantu anak-anak belajar meniru dunia orang dewasa. "Boneka bisa membantu anak memainkan beragam peran orang, baik dari bayangan maupun kehidupan nyata, serta mereka bisa bermain figur orangtua," kata Voce.

Saat ini, jumlah anak-anak yang bermain dengan mainan yang dioperasikan dengan baterai telah meningkat tiga kali lipat. Dari 10 persen menjadi 34 persen.

Permainan yang paling mengalami penurunan adalah permainan papan. Tadinya menempati posisi pertama di tahun 1950an, kini permainan papan hanya diminati 3 persen respoden.

Para ahli menyalahkan kurangnya waktu sebagai penyebab tren ini. Karena lebih mudah untuk meninggalkan anak-anak di depan monitor ketimbang harus menemani anak-anak saat menemani permainan papan.

Tetapi Voce tidak menganjurkan orangtua untuk menyalahkan permainan elektronik. Mereka tetap perlu belajar menggunakan alat-alat elektronik supaya bisa tetap mengikuti perkembangan zaman.  

"Namun, memang, tetap ada bahaya bila si anak terlalu ketergantungan dengan interaksi dua dimensi dan hanya menatap monitor," kata Voce.

Menurut Voce, anak-anak tetap butuh bermain dengan obyek yang bisa mereka bentuk, susun, konstruksi, dan bongkar untuk membentuk kemampuan motorik dan koordinasi mata.

Hal yang lebih ingin ditekankan Voce adalah, yang terpenting anak-anak ini bermain dan bersenang-senang. Menggunakan barang-barang bekas saja pun mereka bisa bermain dan seseruan.

Penulis: /WEB