Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar

Jakarta - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar meminta semua pihak untuk peduli dan "menjemput bola" pasien kanker payudara yang tidak mampu. Mengingat pengobatan yang mahal, Linda mengatakan, biaya pemeriksaan dan deteksi dini kanker payudara mesti digratiskan.

Linda yang juga pendiri dan dewan pembina Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ) mengatakan, mahalnya biaya pengobatan kanker payudara menyebabkan sebagian perempuan, terutama di pelosok, takut memeriksakan diri, juga khawatir divonis positif. Menurut Linda, penyakit ini kerap menyebabkan hilangnya produktivitas perempuan dan menciptakan kemiskinan baru dalam masyarakat.

“Padahal, dengan deteksi dini, besar kemungkinan mencegah kanker berkembang parah. Kalau pun sudah ada kanker, deteksi awal membantu menyembuhkan lebih sempurna. Banyak contoh perempuan, seperti saya, dan Rima Melati sebagai ketua YKPJ, yang sembuh karena terdeteksi lebih awal,” kata Linda di sela-sela acara penyerahan bantuan dana dari Himpunan Ratna Busana kepada YKPJ, di Jakarta, Rabu (14/3). Bantuan tersebut terdiri dari satu unit mobil mamografi, 1 mobil karoseri, dan sejumlah uang tunai.

Menurut Linda, YKPJ telah bekerja sama dengan pemerintah daerah DKI Jakarta terkait pengobatan gratis bagi pasien miskin melalui skema Jamkesda dan Rumah Sakit Dharmais untuk pemeriksaan serta pengobatan gratis. Namun, kata Linda, yang terpenting adalah menanamkan kesadaran untuk mencegah sejak awal.

Mengacu data Organsiasi Kesehatan Dunia (WHO), Linda mengatakan, setiap tahun terdapat 7 juta penderita kanker payudara, dan 5 juta di antaranya meninggal dunia. Di Indonesia, penyakit ini adalah pembunuh terbanyak nomor dua pada perempuan setelah kanker leher rahim (serviks).

Meskipun angka kesakitan dan kematian akibat kanker payudara tinggi di masyarakat, kesadaran perempuan untuk melakukan deteksi dini masih rendah. Hal ini antara lain karena kurang pemahaman akibat minim informasi, dan kalau pun sudah mengetahuinya, tetap diabaikan, serta sibuk dengan urusan lain. Akibatnya, kebanyakan kasus kanker payudara di Indonesia ketika ditemukan sudah pada stadium lanjut, sehingga angka kematian pun lebih tinggi.

Linda mengimbau perempuan untuk tidak takut melakukan deteksi dini, baik sebelum maupun ketika ada gejala. Minimal, lakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) di rumah. Jika ditemukan kelainan atau perubahan pada payudara, segera periksakan diri ke dokter untuk diagnosis lebih lanjut.

Ketua YKPJ Rima Melati mengatakan, pihaknya tidak hanya melalukan sosialisasi di Jakarta saja, tapi juga sampai ke pelosok, seperti di Kalimantan. Karena pihaknya menyadari pentingnya sosialisasi pencegahan dan deteksi dini.

“Terpenting adalah menjaga gaya hidup, seperti menghindari junk food yang banyak pengawetnya, jauhi alkohol, dan rokok. Semua faktor ini bisa memicu,” katanya.

Menurutnya, kanker payudara pada awalnya tidak menunjukkan gejala, sehingga tanpa pemeriksaan untuk pengobatan dini, sel kankernya semakin meluas, dan seiring mengecilnya kesempatan sembuh.

Kanker payudara menunjukkan beberapa gejala, seperti: benjolan di area payudara dan atau keluar cairan yang tidak normal dari puting susu (berupa nanah, darah, cairan encer atau keluar air susu pada ibu yang tidak hamil atau tidak sedang menyusui). Selain itu, ada perubahan dan besarnya payudara, serta kulit, puting susu, dan aerola melekuk ke dalam atau berkeriput.

Penyebab kanker payudara sampai saat ini belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor risiko yang memicunya, di antaranya: mendapat haid pertama pada usia kurang dari 10 tahun, tidak menikah, tidak pernah melahirkan anak, tidak menyusui anak, melahirkan anak pertama sesudah usia 35 tahun, mengalami mati haid setelah usia 50 tahun, serta genetik.

Penulis: D-13/NAD